Ketika Mereka yang Memilih Indonesia Justru Harus Berjuang Sendiri di Tanah Airnya
YOGYAKARTA — Sebuah bangunan yang terletak di Jalan Kaliurang KM 7, Yogyakarta, menyimpan sejarah panjang kehidupan masyarakat Timor Timur yang dahulu memilih tetap bersama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bangunan yang dikenal sebagai Asrama Timor Timur tersebut selama kurang lebih 24 tahun pernah menjadi sekretariat dan pusat aktivitas Komunitas Timor Timur di Yogyakarta.
Namun, setelah 27 tahun berlalu sejak perubahan politik 1999, kondisi asrama tersebut kini sangat memprihatinkan. Atap bangunan mengalami kerusakan, sejumlah ruangan mulai rusak, dan beberapa bagian bangunan terancam roboh. Tempat yang dahulu menjadi ruang persaudaraan, pusat kegiatan komunitas, sekaligus tempat bernaung bagi mahasiswa dari keluarga pengungsi Timor Timur kini justru menghadapi ancaman kehancuran.
Bagi masyarakat Timor Timur yang dahulu memilih tetap bersama Indonesia dan kemudian meninggalkan tanah kelahirannya, perjalanan hidup setelah 1999 bukanlah perjalanan yang mudah. Mereka harus memulai kehidupan baru di tengah keterbatasan, meninggalkan rumah, harta benda, lingkungan sosial, serta kenangan tentang tanah kelahiran mereka.
Di antara berbagai persoalan yang belum memperoleh perhatian sebagaimana diharapkan, terdapat satu persoalan yang kini semakin memprihatinkan: nasib Asrama Timor Timur di Yogyakarta.
Bangunan yang selama kurang lebih 24 tahun pernah menjadi sekretariat dan pusat aktivitas Komunitas Timor Timur itu kini berada dalam kondisi memprihatinkan. Atap bangunan rusak, sejumlah ruangan mengalami kerusakan, dan beberapa bagian bangunan mulai terancam roboh. Tempat yang dahulu menjadi ruang pertemuan, persaudaraan, dan kegiatan komunitas kini justru menghadapi ancaman kehancuran.
Padahal, asrama tersebut memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar sebuah bangunan.
Setelah peristiwa politik 1999, banyak keluarga dari Timor Timur harus menjalani kehidupan baru di wilayah Nusa Tenggara Timur sebagai pengungsi. Dalam keterbatasan ekonomi, mereka berusaha membangun kembali kehidupan dan masa depan anak-anaknya. Tidak sedikit keluarga yang tetap berjuang menyekolahkan putra-putrinya hingga ke jenjang perguruan tinggi di Yogyakarta.
Bagi sebagian mahasiswa dari keluarga pengungsi tersebut, Asrama Timor Timur menjadi tempat yang sangat berarti. Ketika kemampuan ekonomi keluarga tidak memungkinkan mereka menyewa kamar indekos, asrama ini menjadi tempat berteduh dan tinggal selama menempuh pendidikan.
Di tempat inilah mereka dapat berkumpul, saling membantu, dan membangun harapan untuk masa depan. Asrama tersebut juga tetap difungsikan sebagai sekretariat komunitas, tempat menyelenggarakan rapat, pertemuan, serta berbagai kegiatan sosial masyarakat Timor Timur di Yogyakarta.
Namun, seiring berjalannya waktu, perhatian terhadap keberadaan dan kondisi bangunan tersebut seolah semakin memudar.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: ke mana mereka harus mengadu ketika tempat yang selama ini menjadi tumpuan kehidupan komunitas justru dibiarkan mengalami kerusakan?
Masyarakat Timor Timur yang dahulu memilih Indonesia bukanlah masyarakat yang tidak memiliki sejarah dan pengorbanan. Banyak di antara mereka meninggalkan tanah kelahirannya karena pilihan politik dan keyakinan kebangsaan yang mereka pegang. Mereka kemudian membangun kehidupan di wilayah Indonesia, dengan segala keterbatasan yang harus dihadapi.
Akan tetapi, setelah 27 tahun berlalu, masih ada persoalan mendasar yang belum terselesaikan. Salah satunya adalah keberlangsungan fasilitas yang selama ini menjadi tempat berkumpul dan bernaung bagi komunitas tersebut.
Timor Timur boleh memiliki perjalanan politik yang berbeda sejak 1999. Namun, masyarakat Timor Timur yang dahulu memilih tetap bersama NKRI tidak seharusnya kehilangan perhatian dari negara. Mereka adalah bagian dari masyarakat Indonesia yang juga memiliki hak untuk memperoleh perhatian, perlindungan sosial, dan kesempatan membangun masa depan.
Asrama Timor Timur di Yogyakarta seharusnya tidak dipandang hanya sebagai bangunan tua yang membutuhkan renovasi. Di dalamnya terdapat sejarah perpindahan masyarakat, perjuangan keluarga pengungsi, serta harapan generasi muda yang ingin memperoleh pendidikan lebih baik.
Membangun kembali asrama tersebut bukan hanya persoalan memperbaiki atap yang rusak atau memperkuat dinding yang mulai roboh. Lebih dari itu, pembangunan kembali asrama merupakan upaya menyelamatkan ruang kebersamaan dan keberlanjutan kehidupan sebuah komunitas.
Karena itu, perhatian Pemerintah Republik Indonesia sangat diharapkan. Pemerintah perlu melakukan peninjauan terhadap kondisi bangunan, memastikan status aset dan kewenangan pengelolaannya, serta mempertimbangkan rehabilitasi atau pembangunan kembali melalui mekanisme yang sesuai.
Asrama tersebut diharapkan dapat kembali menjalankan fungsi sebagaimana mestinya: sebagai sekretariat Komunitas Timor Timur, pusat kegiatan sosial dan persaudaraan, serta tempat bernaung bagi mahasiswa dari keluarga pengungsi yang membutuhkan dukungan.
Kini, setelah 27 tahun berlalu, sudah saatnya persoalan ini memperoleh perhatian serius. Jangan sampai bangunan yang menyimpan sejarah dan menjadi tempat bertumpu bagi generasi muda itu akhirnya benar-benar hilang ditelan waktu.
Sebab, sebuah bangsa tidak hanya dikenang dari bagaimana ia memperlakukan mereka yang berada di pusat kekuasaan, tetapi juga dari bagaimana ia memperhatikan warga yang pernah mengalami kesulitan dan masih membutuhkan uluran tangan negaranya.
Asrama Timor Timur masih membutuhkan perhatian. Dan suara masyarakat yang pernah menjadikannya rumah kedua patut didengar.
Tags:
Ex-Timtim