Saya baru saja menemukan sebuah foto kenangan bersama kakak saya—almarhum—seusai menghadiri seminar tentang Pancasila di Universitas Gadjah Mada. Bagi saya, dia bukan hanya seorang kakak. Ia adalah sahabat, saudara seperjuangan.
Awal Sebuah Perjuangan
Semua bermula pada tahun 1999, saat Jajak Pendapat dimunculkan. Kami merasa tidak bisa tinggal diam, Timor Timur harus tetap menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bersama kawan seperjuangan—Olegario Miguel Osorio Soares dengan keteguhannya, Olguito Fernandes dengan kecerdasannya, almarhum Zito Pinto dengan keberaniannya, dan Peter Da Costa Bria dengan semangat mudanya—kami membentuk FORBALLOTT (Forum Bersama Elemen Pro Otonomi Timor Timur). Nama itu adalah buah pemikiran cemerlang kakak saya: For Ballot.
Mereka yang Pergi Terlalu Cepat
Takdir seringkali tak berpihak pada pejuang. Kakak saya, Jose Antonio, harus pergi lebih dulu. Menyusul kemudian Octavio Osorio Soares dan Zito Pinto—seolah mereka berbaris rapi untuk berpamitan. Setiap kali mengenang mereka, saya selalu bertanya: "Sudahkah kami mewarisi semangat mereka dengan baik?" Sebab, perjuangan ini belum usai. Selama masih ada napas, kami akan terus membawa obor yang mereka tinggalkan.
Keindonesiaan yang Harus Diperjuangkan
Kami berbeda. Ketika Indonesia pertama kali mengumandangkan kemerdekaannya, kami bahkan belum ada dalam peta sejarah. Kami baru menjadi Indonesia ketika negeri ini sudah berusia 30 tahun. Bagi kebanyakan orang, menjadi WNI adalah takdir sejak lahir. Tapi bagi kami, itu adalah pilihan—pilihan yang dibayar dengan air mata, dan darah. Darah para pejuang APODETI yang gigih memperjuangkan integrasi, darah prajurit TNI yang gugur di medan tugas.
Keindonesiaan kami tidak kami dapat secara cuma-cuma. Ia diperjuangkan, dan dipertahankan dengan pengorbanan. Itulah mengapa, hingga hari ini, kami tetap setia. Bukan karena tak punya pilihan lain, melainkan karena kami tahu betapa mahal harga sebuah identitas bernama "Indonesia".
"Kami mungkin tidak terlahir sebagai Indonesia, tapi kami memastikan: kami akan mati sebagai Indonesia sejati."
Tags:
Ex-Timtim

