Posisi Bahasa Indonesia di Timor Leste

Jaman integrasi, Bahasa Indonesia adalah bahasa kaum elit terdidik masyarakat Timor Timur, juga elit pemerintah karena bahasa resmi birokrasi. Bahasa Indonesia adalah bahasa kekerasan karena saat terjadinya tindak tersebut maka suara lantang Bahasa Indonesia mengudara keras.

Kini, ketika Timor Timur tidak lagi menjadi propinsi NKRI, dan berubah menjadi negara sendiri bernama RDTL, Bahasa Indonesia masih seperti jaman integrasi yakni menjadi bahasa kaum elit terdidik masyarakat Timor Leste karena mereka menempuh perguruan tinggi di Indonesia (nilai plus untuk PBI (Pusat Budaya Indonesia-pusat busaya asing terbesar se-Timor Leste), juga elit pemerintah kini masih fasih berbahasa Indonesia karena pendidikannya dulu adalah pendidikan Indonesia.
Pada masyarakat Timor Leste kini, memang bahasa Indonesia tidak merata dipakai di seluruh wilayah mereka, namun kemanapun kita menjejakkan kaki di Timor Leste, umumnya mereka mampu berbahasa Indonesia, minimal sebagai pengguna pasif. Tayangan televisi siaran Indonesia tidak diputus atau dibatasi sehingga masuk ke ruang-ruang kamar orang Timor Leste, apalagi platform internet berbasis video, seperti Youtube, dan Tiktok. Masyarakat tidak bisa dibatasi, termasuk berkomunikasi dengan saudaranya yang mempertahankan ke-WNI-annya di sebelah Barat RDTL atau wilayah lainnya di NKRI.
Di tingkat pemerintahan, RDTL tidak menolak Bahasa Indonesia, bahkan menempatkannya bersama Bahasa Inggris sebagai bahasa kerja yang digunakan dalam administrasi dan kegiatan kenegaraan jika diperlukan. Selama ini diperlukan, hingga saat ini seringkali penerbitan berita negara dalam beberapa bahasa, salah satunya Bahasa Indonesia. Bahasa kerja Bahasa Indonesia berlaku pula di pasar moderen hingga ke pelosok pasar-pasar tradisional: pertemuan penjual dan pembeli diperbatasan memungkinan ini terjadi.
Dengan terkoneksinya Bahasa Indonesia seakan-akan Timor Leste bukanlah sesuatu yang asing, semuanya terhubung. Salah satu pembeda utamanya adalah adminitratif layaknya yang disinggung oleh pemrintah RDTL diatas dalam penggunaan Bahasa Indinesia.
Masa lalu, ikatan tali darah, sekaligus dukungan pemerintah RDTL, kemudian memposisikan Bahasa Indonesia, tetap sebagai bahas eit cendikiawan (elit terpelajar), juga penyambung rasa dan asa bukan sekedar alat komunikasi belaka.
Lihatlah di FB @timtimfiles, kerangka berfikir diatas mendapatkan konfirmasinya disini.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama