Jangankan pembenci militer Indonesia, veteran perang Timor Timur (Timtim) dari Kopassus dalam podcast belakangan ini mengakui bahwa data yang tak akurat yang dihimpun intelejen sebabkan pasukan ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) banyak kehilangan prajurit terbaiknya. L.B Moerdani juga Pat Walsh menyebut operasi Seroja amburadul, tidak prosional, dan “lucu-nya” ada insiden “salah lirik” saling tembak sesama prajurit ABRI. Lebih lanjut, tidak sedikit ragam kekurangan yang dapat dikulik selama awal kehadiran prajurit ABRI dimedan perang hingga lanjut keberadaannya di Timtim. Bermasalah!.
Menurut Timtim Files, apa yang disebut Bermasalah! adalah peristiwa yang cukup menjadi bukti bahwa kehadiran ABRI di Timtim utamanya adalah untuk menyembuhkan masalah. Ini thesis Timtim Files, maafkan jika agak terlihat teoritik. So, bagaimana kerangka berfikirnya?
Bisa jadi, pendapat ini banyak yang tak sejalan dengan kami sesama orang Indonesia juga orang Timor Leste, terlebih lagi dengan arus utama sejarah yang selama ini beredar bahwa keberadaan ABRI di Timtim ini soal ketakutan Indonesia akan efek domino penguasaan komunis di Vietnam tahun 1975. Ketahuilah, kekuatan wilayah kecil Timor Portugis bukanlah lawan sepadan ABRI mengingat gilang-gemilangnya operasi-operasi hebat macam Mandala di Papua, menumpas APRA, menghancurkan PRRI, perang melawan SAS (Kopassus-nya Inggris) diperbatasan Malaysia, dan lainnya. ABRI hebat karena melalui masa sulit dalam ragam peperangan.
Patut diketahui bahwa prajurit ABRI "berhenti berperang" sejak akhir 1965 saat menumpas PKI. Banyak orang lupa (atau bahkan tidak tahu) bahwa mereka yang hebat dalam perang-perang besar seperti yang disebutkan itu, sudah berganti generasi.
Generasi baru ABRI paska G30S/PKI ini, dinilai tak se-berkobar dulu (Semangat '45-nya) saat dimana tantangan sebagai tentara adalah peluru tajam dan kematian di medan laga layaknya yang mereka lakoni sejak 1945 hingga 20 tahun kemudian. Generasi '45 saat itu dianggap sosok yang ideal sebagai tentara jempolan, dan tentara yang setelahnya masih dibawah level mereka karena satu alasan utama: tidak memiliki pengalaman berperang (sungguhan bukan latihan perang!). Tak ayal, karena tidak terlatih dengan pengalaman hidup-mati yang dilaluinya dimedan perang, maka ketajaman indera juga mentalitas sebagai prajurit menjadi masalah. Narasi permasalahan ini konfirm di Timtim: lihatlah amburadul-nya mereka saat awal Operasi Seroja digelar.
Para petinggi ABRI memahami masalah ini. Awalnya, obat penyembuh adalah penanaman pengetahuan sejarah tentang gilang-gemilang perang tersebut dengan menggandeng Nugroho Notosusanto sejarawan militer asal UI (Universitas Indonesia). Harapannya dapat menumbuhkan sikap pejuang, kepahlawanan, hingga menumbuh-kembangkan semangat ’45. “Krisis Nilai semangat ‘45” ini disinggung oleh Mc. Gregor (2008) dan Adam (2010). Namun, usaha kedalam ini, dirasa tidak cukup. Mereka butuh lebih, mereka ingin wahana candradimuka guna menempa generasi baru agar semangat ’45 secara nyata kembali berkobar. Gayung bersambut, permasalahan yang sudah tercium anyir diawal tahun 1970 ini mendapatkan momentumnya. Timor Portugis (Timpor) menjadi target, segera paket perang dipersiapkan. Tergesa-gesa, grasak-grusuk proses persiapan hingga awal masuk ke Timpor adalah sebuah sistem yang terbangun oleh generasi baru ABRI paska G30S/PKI yang (kebanyakan dari mereka) sekali lagi, minim pengalaman perang (bertempur dan intelejen). Tidak mengagetkan jika awal Operasi Seroja, Fretilin memiliki kisah baik saat bertempur dengan prajurit ABRI.
Berdasarkan uraian tersebut, sebenarnya menampik/meruntuhkan keyakinan teori yang selama ini dianggap mapan, seperti:
1. Indonesia intervensi konflik di Timtim karena ancaman komunis. Ancaman komunis saat itu yang disebut-sebut menjadi alasan ABRI masuk Timtim tak lebih sebagai penguat karena saat itu perang dingin sedang hangat, bahkan panas-panasnya di Asia Tenggara. Komandan-komandan di ABRI sebut bahwa musuh di Timtim (Fretilin) ialah komunis. Selain memang faktanya Fretilin mengarah ke komunis, hal itu dilakukan semata-mata untuk menyemangati prajurit karena selama ini doktrin utama militer Indonesia adalah ancaman utama-musuh utama ialah komunis. Komunis dijadikan musuh bersama bagi prajurit ABRI! Ini cara mudah, cepat, dan terbaik guna menguatkan mental prajurit karena pengalaman 1965 melawan komunis adalah kemenangan!
2. Indonesia mencaplok Timtim disebabkan ingin mengeruk minyak yang berlimpah. Banyak yang tidak paham, bahwa setelah krisis minyak bumi 1973 di Timur Tengah, Indonesia tiba-tiba jadi tambah kaya karena kecipratan surplus naiknya harga minyak ketika dan setelah perang di negara-negara Arab sana. Menariknya, saat menguasai Timtim secara luas, bukan ladang minyak yang ditarget, ini berbanding terbalik dengan keyakinan bahwa Indonesia ke Timtim adalah war for oil. Bahkan, baru tahun 1989, minyak bumi jelas-jelas nyata ada untuk dieksploitasi, malahan dibagi separuh kepada Australia. Soal minyak, jelas tak memiliki basis logika sehat dan fakta yang ada.
3. Indonesia meng-invasi Timtim dikarenakan disuruh Amerika Serikat (AS) untuk membendung arus komunis yang menjalar di Asia Tenggara yang saat itu sudah ada 3 negara yang berhaluan komunis, yakni Laos, Kamboja, dan terbaru (1975) adalah Vietnam. Indonesia diyakini sebagai budak suruhan AS. Banyak orang tidak tahu, bahwa hingga akhir tahun 1980-an (jelang perang dingin usai) AS tidak pernah tertarik dengan Timtim, dan peran AS adalah “memberi lampu hijau, menyetujui” aksi ABRI. Faktanya, Indonesia jalan sendiri dilapangan, bahkan senjata saja beli dari AS bukan diberikan secara gratis karena alasan sama satu gerbong yang berseberangan dengan Unisoviet-Cina yang komunis.
4. Indonesia masuk ke Timtim dikarenakan ambisi teritorial ingin memperluas wilayahnya. Ini adalah teori/keyakinan yang paling tidak meyakinkan. Kurang luas apa Indonesia saat itu ditahun 1975? Tidak pahamkah bahwa Indonesia itu seluas Eropa, dan mengharapkan Timtim direbut karena alasan ambisi teritoril adalah irrasional. Jika, misalkan benar, soal kerakusan menguasai wilayah, lalu kenapa harus menunggu hingga akhir tahun 1975? Harusnya dieksekusi pada tahun 1960-an saat sedang hebat-hebatnya perebutan wilayah yang diklaim Indonesia. Artinya apa? Sukarno maupun Suharto, tak berminat dengan Timtim. Lalu, kenapa kemudian Suharto akhirnya setuju ABRI merebut Timtim? menurut Timtim Files, tubuh ABRI lebih utama dibanding tubuhnya sendiri. Suharto lebih mengutamakan kepentingan ABRI dalam menyembuhkan masalahnya dibandingkan mempertahankan ego sikapnya sendiri, terlebih lembaga itu (ABRI) adalah yang membesarkan dirinya hingga kini menjadi presiden dan penguasa Indonesia. Sebagai seorang militer dan panutan juniornya, pantang untuk menganulir langkah yang sudah diambil dan dijalaninya. Oleh karena itu, segala macam protes, hinaan, bahkan tekanan internasional kepada Suharto tak digubris: tetaplah Timtim adalah propinsi Indonesia ke-27.
Secara bertahap, bahkan sejak dimulainya Operasi Seroja, perbaikan kekuatan ABRI secara serius diperbaiki dalam laju perang yang terjadi di Timtim. Mereka yang baru kembali dari perang di Timtim berbagi kisah ke juniornya pada pendidikan-pendidikan ABRI, mereka juga banyak disekolahkan ke dalam dan luar negeri, meningkatkan kesatuan tempur taktis efektif, penguatan daya dukung logistik, dan pembangunan peningkatan lainnya ditubuh ABRI. Timtim selama 2 dekade telah menjadi kisah penyembuh masalah ditubuh ABRI. Masalah lemahnya semangat ’45 dengan indikator tidak memiliki pengalaman berperang, dirasa sudah tidak bermasalah lagi.
Fretilin dan milisinya, di era tahun 1990-an, seakan “mati suri”, “hidup segan mati tak mau” Saat itu, Timtim menjadi tempat latihan perang militer Indonesia guna menguji sekaligus menempa kualitas hasil program pendidikan bagi prajurit baru. Dalam buku berjudul “Akar Perlawanan Rakyat Timor Timur” halaman 21 yang terbit tahun 1996 (20 Tahun Integrasi Timtim), Gerry Van Klinken menulis: Pertikaian bersenjata sekarang berfungsi sebagai latihan benaran bagi seluruh angkatan bersenjata Indonesia, yang digilir di seluruh wilayah itu selama jadwal rutin sembilan bulan. Singkatnya, tidak ada peluang bagi keunggulan militer Timor Timur.
Kondisi demikian menghantarkan kesan bahwa konflik Timtim kemudian menjadi tempat untuk memperoleh pengalaman bertempur bagi prajurit, yang dengannya itu, kualifikasi meningkat, terlebih bukan hanya di Timtim perang berkobar, akan tetapi terjadi pula di Aceh dan Irian Jaya (Papua). Prajurit yang bertugas di medan konflik tersebut, pada akhirnya menjadi kaya akan pengalaman perang. Sebuah kondisi serdadu/prajurit yang dalam tradisi militer Indonesia kala itu dianggap ideal, jempolan, dan mendapat respect tinggi dari beragam kalangan.
Sejak tahun 1980-an, bahkan setelah Timtim lepas tahun 1999, prajurit ABRI dikenal memiliki kualifikasi mumpuni. Oleh karenanya ABRI dihormati di Asia Tenggara, Asia, bahkan dunia. Kita semua tahu tentang gilang gemilangnya penuntasan pembajakan Woyla, aksi gila yang amat diragukan keberhasilannya oleh pengamat militer dunia dalam menyelesaikan penyanderaan Mapenduma, dan prestasi lainnya yang diketahui dan hidup melegenda dalam dunia ingatan-lisan militer Indonesia. Tidak lupa bahwa bertahun-tahun pasukan komando Indonesia (Kopassus) masuk 3 besar pasukan elit terbaik dunia. Timtim Files meyakini, mereka yang terlibat dalam kegemilangan serta kejayaan itu pernah dalam kondisi hidup-mati perang di Timtim.
Demikin.
Jakarta, 25 Juli 2026
Daftar Sumber
Adam, Asvi, 2010, Menanamkan Nasionalisme pada era Orde Baru dan era Reformasi
(Makalah Seminar), AGSI, Galeri Nasional Jakarta.
Klinken, Gerry Van, 1996, Akar Perlawanan Rakyat Timor Timur, Lembaga Studi dan Advokasi
Masyarakat (ELSAM), Jakarta.
Mc. Gregor, Katharine, 2008, Ketika Sejarah Berseragam: Membongkar Ideologi Militer dalam
Menyusun Sejarah Indonesia, Syarikat, Yogyakarta.
Pat Walsh, 2023, di Tempat Kejadian Perkara, Gramedia, Jakarta.
Sucipto Ardi, 2026, Percakapan Medsos Sejarah & Masa Lalu Timor Timur/Timor Leste, Versi
Pdf, Jakarta.
