Remigio Levi da Costa Tilman, yang memiliki nama perjuangan Metan atau Irak, dilahirkan pada tanggal 17 Agustus 1974 di Uaibobo, Ossu, Viqueque. Ia merupakan anak kedua dari dua belas bersaudara pasangan Eduardo de Araujo Tilman (Mestre Eduardo), seorang guru sejak era Portugis, dan Luciana da Costa Silva Tilman, seorang ibu rumah tangga yang religius. Remigio tumbuh dalam keluarga yang menanamkan nilai-nilai moral, agama, patriotisme, dan nasionalisme yang sangat kuat. Karakter patriotik ini juga dipengaruhi oleh sejarah kelam keluarga dari pihak ibunya, di mana sang paman, Moises da Costa Sarmento, beserta istrinya, Maria Cesaltina Lobato (saudari dari tokoh nasional Nicolau Lobato), dibunuh oleh militer Indonesia pada tahun 1979. Pengalaman kehilangan banyak anggota keluarga akibat eksekusi, penangkapan, serta pengasingan ke Pulau Atauro sejak masa kecilnya menjadi landasan kuat bagi Remigio untuk terjun ke dunia perlawanan.
Kehidupan masa kecil Remigio tidak luput dari kerasnya dampak konfrontasi politik di Timor-Leste. Pada masa konflik Juli 1975, saat baru berusia satu tahun, ia dan ibunya sempat dibawa secara paksa ke Manatuto karena dicurigai memiliki hubungan darah dengan tokoh-tokoh FRETILIN, sebelum akhirnya berhasil diselamatkan kembali ke Dili. Pengalaman batinnya semakin diperkuat ketika pada tahun 1978, kakaknya yang bernama Nilton berhasil selamat dari pengungsian di Gunung Matebian setelah tiga tahun terpisah. Cerita-cerita mencekam yang disampaikan oleh Nilton mengenai serangan bom pesawat militer Indonesia, jatuhnya korban jiwa di kalangan pengungsi, kelaparan, serta keberanian para pejuang FALINTIL bertempur tanpa menyerah, sangat membekas di hati Remigio kecil dan perlahan membentuk kesadaran politik serta nasionalismenya sejak usia dini.
Minat Remigio pada dunia perlawanan bawah tanah bermula dari kedekatannya dengan sang paman, Daniel Alves, dan bibinya, Mafalda Tilman (Sarai), yang merupakan aktivis klandestin aktif. Atas saran mereka, Remigio dikirim untuk bersekolah di Misi Katolik Ainaro pada tahun 1981. Selama enam tahun di Ainaro, ia tidak hanya mengenyam pendidikan formal tetapi juga dilatih secara khusus untuk menguasai keterampilan spionase gerakan klandestin, seperti menjadi kurir rahasia, menggunakan kode, menghafal pesan lisan, serta mengelabui pemeriksaan militer di pos-pos keamanan. Setelah lulus, ia kembali ke Dili untuk melanjutkan sekolah ke SMP São José Balide dan mulai memegang peran kepemimpinan dengan bergabung ke organisasi pemuda OJETIL pada tahun 1991, serta mendirikan kelompok pemuda perlawanan bernama Maun Alin 13 de Maio pada tahun 1993 di Audian.
Di wilayah Audian, Remigio tumbuh menjadi salah satu tokoh penting dalam jaringan SELCOM Rai Moris-Audian yang bekerja langsung di bawah arahan Gregorio Saldanha dan Pedro Nunes (Komandan Kery Laran Sabalae). Remigio memiliki peran strategis, mulai dari menyalurkan obat-obatan secara rahasia dari Apotik Lestari ke pegunungan hingga menjalin hubungan dengan aktivis solidaritas internasional asal Jepang bernama Suzy ("Maufunu"). Keberanian dan kecerdikannya teruji pada tahun 1990 ketika ia berhasil mengelabui penjagaan ketat militer dengan memanjat tembok belakang Keuskupan Dili demi menyerahkan dokumen situasi Timor-Leste langsung kepada Duta Besar AS, John Monjo. Pada 12 November 1991, ia terlibat langsung dalam demonstrasi Pemakaman Santa Cruz dan terekam jelas oleh kamera Max Stahl saat memanjat gerbang sambil mengibarkan bendera Republik Demokratik Timor-Leste, yang membuatnya langsung masuk ke dalam daftar buruan utama intelijen Indonesia.
Memasuki awal tahun 1995, Remigio menerima informasi bocor dari jaringan intelijen bahwa tempat persembunyian Komandan Sabalae telah terendus oleh aparat keamanan Indonesia. Guna menghindari pukulan telak bagi organisasi, Remigio bersama pamannya, Daniel Alves, merancang misi rahasia menggunakan mobil pemerintah untuk mengevakuasi Komandan Sabalae dari Dili menuju tempat persembunyian baru yang lebih aman di Ermera pada dini hari. Beberapa bulan setelahnya, setelah menyelesaikan pendidikan menengahnya, Remigio sebenarnya sudah bersiap untuk bertolak melanjutkan kuliah ke Malang, Indonesia, bahkan tiket perjalanan pun sudah dibeli. Namun, ketika Wakil Sekretaris CEL/FC, David Dias Ximenes, mengirimkan pesan mendesak melalui aktivis Virgilio Danilo yang meminta dirinya menjemput kembali Komandan Sabalae ke Dili, Remigio memilih membatalkan rencana studinya demi mendahulukan panggilan tugas perjuangan.
Misi terakhir tersebut dilaksanakan pada pagi hari tanggal 29 Juni 1995, di mana Remigio berangkat menuju Ermera menggunakan sepeda motor GL-Max bersama Virgilio Danilo setelah berpamitan dan meminjam pakaian milik adiknya, Ivo Tilman. Sekitar pukul empat sore, Remigio dan Komandan Sabalae berangkat lebih dahulu dari Ermera menuju Dili menggunakan sepeda motor, sementara Virgilio menyusul menggunakan transportasi umum. Namun, keduanya tidak pernah sampai ke tempat tujuan dan menghilang tanpa jejak malam itu juga. Hingga hari ini, hilangnya kedua tokoh tersebut tetap menjadi misteri tanpa bukti konkrit; apakah mereka ditangkap, disiksa, dan dibunuh oleh pasukan KOPASSUS/SGI Indonesia, atau menjadi korban konflik internal dalam gerakan perlawanan sendiri. Luka mendalam masih dirasakan keluarga Tilman yang hingga kini tidak memiliki makam untuk diziarahi, dan mereka terus menuntut dilakukannya penyelidikan menyeluruh terhadap mantan militer Indonesia maupun Front Klandestin demi mengungkap kebenaran.
Tags:
Timor Timur
