Yunus Yosfiah Bantah Keterlibatan dalam Kasus Balibo Five: "Saya Tidak Pernah Membunuh Wartawan"


Jakarta, AFU.ID — Nama Yunus Yosfiah tak bisa dilepaskan dari sejarah panjang hubungan Indonesia dengan Timor Leste. Sebagai komandan Yonif 744 yang berhasil menangkap Nicolau dos Reis Lobato pada 1978, ia dikenal sebagai salah satu perwira lapangan yang paling dekat dengan operasi militer di Timor Timur. Namun, di balik karier militernya yang gemilang, ada satu tuduhan yang terus menghantui: keterlibatannya dalam pembunuhan lima wartawan Australia di Balibo pada 16 Oktober 1975.

Yunus dengan tegas membantah tuduhan tersebut. Dengan nada tenang namun penuh penekanan, ia menguraikan sejumlah argumen yang menurutnya membuktikan bahwa dirinya tidak terlibat dalam insiden yang mengguncang hubungan Australia-Indonesia tersebut. "Saya Tidak Pernah Membunuh Wartawan," katanya dalam wawancara eksklusif dengan AFU ID di Jakarta, Jumat (19/6/2026).

"Beberapa orang berkomentar, 'oh ini kan orangnya membunuh wartawan ini'," ujar Yunus menirukan tuduhan yang kerap ditujukan kepadanya. "Saya nggak pernah, Pak, membunuh wartawan."

Ia menjelaskan, para wartawan yang tewas di Balibo, kini dikenal sebagai Balibo Five, saat itu mengenakan pakaian loreng (doreng), bukan pakaian jurnalistik yang lazim. "Pakaian doreng dia. Meninggal. Dan saya nggak pernah lihat mereka dalam jarak dekat atau jarak lain. Nggak pernah ketemu."

Yunus mengungkapkan bahwa dirinya pernah menerima klarifikasi langsung dari pemerintah Australia mengenai statusnya dalam kasus tersebut. Saat berkunjung ke Australia, katanya, petugas intelijen setempat memberikan data yang menyimpulkan bahwa ia tidak terlibat. "Mereka analisa, Pak, ini nggak terlibat," kenangnya.

Ia juga menceritakan, pada hari ketiga setelah dilantik sebagai Menteri Penerangan pada 1998, Duta Besar Australia untuk Indonesia mendatanginya dan menyampaikan bahwa namanya telah "clear" dari tuduhan tersebut. "Diberikan buku tentang bahwa, Bapak, clear, Pak. Bapak nggak didebatkan," ujarnya.

Tidak Dicekal ke Luar Negeri

Salah satu argumen utama Yunus adalah bahwa ia diperbolehkan mengikuti pendidikan militer di negara-negara Barat, sesuatu yang mustahil terjadi jika ia benar-benar terlibat dalam pembunuhan wartawan Australia. "Saya sekolah dua kali ke Amerika, Pak. Kalau terjadi itu nggak mungkin saya boleh sekolah sana. Saya sekolah satu kali ke Inggris," tegasnya.

Fakta ini sesuai dengan catatan sejarah: Yunus mengikuti pendidikan di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) di Fort Leavenworth, Amerika Serikat pada 1979–1980, serta Royal College of Defence Studies di Inggris.

Yunus juga menyoroti inkonsistensi kesaksian para saksi mata yang menudingnya. Menurutnya, ada setidaknya lima versi berbeda mengenai lokasi dan cara kematian para wartawan, sebuah tanda bahwa cerita-cerita tersebut tidak dapat diandalkan.

"Ada yang bilang meninggalnya di kamar mandi. Ada yang bilang, katanya ditembak di perempatan. Ada yang di lapangan. Macam-macam," jelasnya.

Ia menambahkan bahwa informasi yang bertentangan ini berasal dari orang-orang Timor yang mengungsi ke Australia. "Supaya diterima, dia bikin data informasi itu. Padahal setelah dicek, enggak benar."

"Kalau kejadian yang benar, enggak mungkin sampai lima macam cerita. Lima macam cerita. Ini maksudnya itu tempatnya beda. Ada yang bilang di belakang rumah. Ada yang bilang di dalam kamar mandi. Ada yang bilang di lapangan. Padahal dibilangnya kan satu waktu, Pak. Jelas dong. Enggak mungkin satu beda-beda tempatnya."

Kembali Mengemuka Lewat Film

Kasus Balibo Five kembali mengemuka pada 2007 ketika sebuah film dokumenter dan sidang inquest di Australia menyoroti peran Yunus. Dalam sidang tersebut, seorang saksi mata mengidentifikasi Yunus sebagai orang yang pertama kali melepaskan tembakan ke arah para wartawan.

Namun, hingga kini tuduhan tersebut belum terbukti secara hukum. Pada 2014, Australian Federal Police (AFP) menghentikan penyelidikan kasus kejahatan perang ini karena bukti yang tidak cukup.

Insiden Balibo terjadi pada 16 Oktober 1975, ketika lima wartawan Australia, Greg Shackleton, Gary Cunningham, Tony Stewart, Dave Wells, dan Malcolm Rennie. Mereka tewas di kota perbatasan Balibo, Timor Timur, sehari sebelum invasi besar-besaran Indonesia dimulai. Pemerintah Indonesia selama bertahun-tahun menyatakan bahwa mereka tewas dalam crossfire (tembak-menembak) dalam pertempuran.

Namun, investigasi Australia pada 2007 menyimpulkan bahwa mereka dieksekusi secara sengaja oleh pasukan khusus Indonesia. Meski demikian, AFP menghentikan penyelidikan pada 2014 karena bukti yang tidak cukup. Nama Yunus Yosfiah disebut sebagai komandan pasukan khusus yang memimpin serangan di Balibo saat itu, meski ia terus membantah tuduhan tersebut.

Letnan Jenderal TNI (Purn.) Muhammad Yunus Yosfiah lahir di Rappang, Sulawesi Selatan, pada 7 Agustus 1944. Ia lulus dari Akademi Militer Nasional pada 1965 dan mengikuti sejumlah pendidikan militer di dalam dan luar negeri, termasuk di Amerika Serikat dan Inggris.

Kariernya mencapai puncak ketika ia menjabat sebagai Menteri Penerangan dalam Kabinet Reformasi Pembangunan pada era Presiden B.J. Habibie (1998–1999). Jabatan Menteri Penerangan kemudian dihapuskan oleh Presiden Abdurrahman Wahid.

Di luar karier militer dan politiknya, Yunus juga dikenal karena pernikahannya dengan Antonia Jacinta da Costa Ricardo, seorang perempuan berdarah Portugis asal Timor, yang memperkuat ikatannya dengan masyarakat setempat di tengah konflik yang berkecamuk.

Ketika ditanya mengenai pembubaran Departemen Penerangan, kementerian yang dipimpinnya, pada masa Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Yunus mengaku tidak tahu-menahu. Ia juga membantah kabar bahwa ia menyetujui pembubaran kementeriannya sendiri. "Kalau itu saya enggak tahu. Jangan tanya sama saya, Pak," jawabnya singkat.

Meski pernah menjabat sebagai Menteri Penerangan di era Orde Baru, Yunus justru dikenal sebagai salah satu tokoh yang mendukung kebebasan pers. Ia mengaku membuka akses informasi seluas-luasnya karena memahami manfaat pers bagi pembangunan bangsa. "Saya buka itu karena saya sangat mengerti manfaat persetujuan pembangunan bangsa," ujarnya.

Di masa jabatannya, ia turut berperan dalam penyusunan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Regulasi baru itu dianggap sebagai tonggak kebebasan pers di Indonesia. Atas jasanya, ia menerima Anugerah Dewan Pers 2023 sebagai Tokoh Masyarakat Pendukung Kemerdekaan Pers. (EER)

Sumber

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama