Oleh banyak kalangan internasional, Xanana Gusmão dikenal sebagai simbol perjuangan kemerdekaan Timor Leste. Bersama José Ramos-Horta, ia kerap digambarkan sebagai tokoh yang membawa bangsanya keluar dari cengkeraman konflik menuju kemerdekaan. Namun di balik citra heroik itu, tersembunyi sejarah kelam yang jarang diketahui masyarakat Indonesia—sejarah tentang konflik internal berdarah antarsesama orang Timor Timur, di mana Xanana dan kawan-kawannya bukan hanya pejuang, tetapi juga pihak yang terlibat dalam kekerasan terhadap lawan politiknya.
Banyak orang Indonesia mengenal Xanana hanya dari satu sisi: sebagai pejuang kemerdekaan yang pernah dipenjara oleh pemerintah Indonesia. Narasi ini begitu dominan sehingga setiap kunjungannya ke Indonesia selalu disambut hangat—mulai dari wawancara dengan tokoh media, pertemuan dengan pejabat, hingga antusiasme publik yang berebut foto bersama. Ia bukan sekadar tamu kehormatan; ia diperlakukan seperti bintang rock, bahkan pahlawan.
Namun, apakah masyarakat Indonesia benar-benar mengenal siapa Xanana sebelum ia menjadi simbol rekonsiliasi?
Luka yang Terlupakan: Eksekusi terhadap Apodeti
Di balik senyum damai yang ia tunjukkan di hadapan kamera, ada catatan kelam yang tidak pernah terungkap secara luas di Indonesia. Sejarah mencatat bahwa perjuangan kemerdekaan Timor Timur tidak hanya diwarnai perlawanan terhadap Indonesia, tetapi juga konflik internal yang tak kalah kejam.
Salah satu korban paling terkenal dari konflik ini adalah José Fernando Osório Soares, Sekretaris Jenderal Apodeti—partai yang memperjuangkan integrasi Timor Timur ke dalam NKRI. Ia dieksekusi pada 27 Januari 1976 setelah ditangkap oleh pasukan Fretilin.
Kesaksian yang dikutip dalam buku Eyewitness, berdasarkan keterangan Monis Maia, menyebutkan bahwa Xanana—yang saat itu masih bernama Jose Alexandre Gusmão—terlibat dalam eksekusi tersebut. Bersamanya, tokoh-tokoh penting Fretilin lainnya turut bertanggung jawab atas rangkaian kekerasan yang menewaskan puluhan pendukung integrasi.
Bagi kelompok integrasionis dan keluarga korban, peristiwa ini bukan sekadar sejarah. Ini adalah luka yang tak pernah sembuh. Mereka melihat bagaimana para pemimpin pro-kemerdekaan—yang kini dielu-elukan—telah melakukan tindakan di luar prosedur hukum terhadap lawan politik yang tidak bersenjata. Apodeti berjuang melalui jalur politik, bukan dengan senjata, namun mereka justru menjadi sasaran pembantaian tanpa pengadilan.
"Saya Tidak Pernah Membunuh"—Dongeng yang Dipercaya?
Dalam salah satu wawancaranya yang paling dikenal—bersama Najwa Shihab—Xanana dengan tenang menyatakan bahwa ia tidak pernah membunuh. Ia bahkan bercerita tentang bagaimana ia "menolong" tentara yang ditembak oleh anak buahnya:
"Orang yang pertama saya kenal adalah seseorang yang kita tembak dan kita tangkap karena dia tidak bisa lari dan di situ sedang sakit. Saya menjadi dokter."
Pernyataan ini diterima dengan hangat oleh pewawancara dan publik Indonesia. Ia lantas dianggap sebagai sosok yang humanis, bahkan di tengah perang.
Namun pertanyaan yang menggelitik adalah: bagaimana mungkin seseorang bisa memimpin perang gerilya selama 17 tahun di hutan tanpa pernah membunuh? Apakah itu sekadar dongeng yang dengan mudah dipercaya karena kita terlalu malas bertanya? Atau karena kita sudah terlanjur jatuh cinta pada citranya?
Saat Xanana mengunjungi redaksi Kompas misalnya, ia disambut bak artis papan atas. Semua orang berebut bersalaman dan berfoto. Tak ada yang bertanya tentang eksekusi José Fernando Osório Soares. Tak ada yang menanyakan nasib para pendukung Apodeti yang dibantai tanpa pengadilan.
Yang mereka sambut dengan penuh sukacita adalah sosok yang, bagi sebagian orang Timor Timur, adalah pelaku kekerasan terhadap keluarga dan kerabat mereka.
Apa salah Apodeti? Mereka berjuang dengan keyakinan politik, bukan dengan senjata. Mereka percaya pada integrasi dengan Indonesia sebagai jalan terbaik bagi masa depan Timor Timur. Namun keyakinan itu justru membayar mahal—dengan nyawa mereka sendiri.
Euforia yang terjadi di Indonesia ternyata tidak terjadi di belahan dunia lain. Baru-baru ini, pada KTT Rusia-ASEAN di Kazan, Rusia (17–19 Juni 2026), Xanana hadir dan bertemu langsung dengan Presiden Vladimir Putin. Namun di sana, ia tidak mendapatkan perhatian istimewa. Tidak ada kerumunan penggemar yang meminta foto. Tidak ada sambutan bak pahlawan.
Bagi masyarakat Rusia, Xanana hanyalah seorang pemimpin dari negara kecil di Asia Tenggara. Tidak ada ikatan emosional, tidak ada narasi heroik yang sudah tertanam sebelumnya. Bahkan dalam sebuah foto, ia terlihat duduk sendirian di kafe—merokok, tanpa pengawalan khusus—sebuah gambaran yang sangat kontras dengan sambutan meriah di Indonesia.
Sejarah Timor Timur tidak pernah sesederhana kisah "penjajah melawan pejuang kemerdekaan". Di dalamnya terdapat perang saudara, pembalasan politik, eksekusi tanpa pengadilan, pengungsian massal, dan ribuan korban dari berbagai kubu.
Namun sayangnya, narasi yang dominan di Indonesia hanya satu: Xanana adalah pahlawan, dan segala sesuatu yang ia lakukan adalah bagian dari perjuangan yang sah. Sementara itu, suara-suara dari kelompok integrasionis—mereka yang kalah dan terlupakan—nyaris tak pernah terdengar.
Ironisnya, masyarakat Indonesia yang dengan penuh semangat menyambut Xanana, tidak pernah benar-benar bertanya: Siapa sebenarnya orang yang mereka sambut? Apa yang ia lakukan terhadap saudara-saudara kita di Timor Timur yang memilih integrasi?
Antara Pengkultusan dan Kebenaran
Perbedaan sambutan terhadap Xanana antara Indonesia dan Rusia menunjukkan satu hal: citra seorang tokoh sangat bergantung pada narasi yang berkembang di suatu masyarakat. Di Indonesia, ia diidolakan karena kita hanya mengenal satu sisi cerita. Di Rusia, ia dinilai apa adanya—seorang pemimpin biasa tanpa romantisme sejarah.
Sudah saatnya masyarakat Indonesia bersikap kritis. Menyambut tokoh asing dengan hangat adalah hal yang baik, tetapi menyambut mereka tanpa mengetahui sejarah kelam di balik senyum mereka adalah bentuk kenaifan yang berbahaya.
Sejarah yang adil bukanlah sejarah yang hanya mengangkat para pahlawan, melainkan juga sejarah yang memberi tempat bagi para korban.
