Maaf, Dunia Tidak Bisa Menerima Timor yang Integrasi


Tahun 1999 bukan sekadar angka dalam penanggalan. Ia adalah salah satu tahun yang paling berat dalam hidup saya—sebuah tahun di mana saya harus belajar melepaskan, meskipun hati masih bergeming pada keyakinan.

Hari itu saya mengantar ibu dan adik-adik saya ke dermaga. Mereka hendak kembali ke Timor Timur. Bagi orang lain, mungkin itu hanya perjalanan biasa. Tapi bagi kami, itu adalah perpisahan yang digantungkan pada ketidakpastian. Di tengah perubahan sejarah yang besar, Timor Timur telah memasuki status baru. Dan bagi saya, seorang integrasionis, kenyataan itu terasa seperti pisau yang menyayat pelan.

Di dalam hati, saya berjanji pada diri sendiri: saya mungkin tidak akan menginjakkan kaki di Timor untuk waktu yang sangat lama. Saya belum siap menerima bahwa tanah yang selama ini saya lihat sebagai bagian dari Indonesia kini menempuh jalannya sendiri—entah ke mana, dan entah untuk apa.

Untuk mengusir kesedihan yang menyelimuti kami, saya berusaha mencairkan suasana. Dari kejauhan, tampak sebuah kapal pesiar besar bersandar megah di dermaga Bali.

Sambil tersenyum, saya berkata kepada adik saya:

"Wah, kalau kapalnya yang itu, saya juga mau ikut pulang ke Timor."

Saya sengaja melontarkan candaan itu. Saya tahu adik saya sedih. Kami semua sedih. Sebentar lagi kami akan berpisah, dan tidak seorang pun tahu kapan akan bertemu kembali.

Kami menuju tempat penampungan yang dikelola IOM. Di sana, para pengungsi didata satu per satu. Ketika giliran ibu dan adik-adik saya tiba, mereka menerima bantuan yang sederhana—satu kaleng biskuit Khong Guan untuk masing-masing. Tidak lebih.

Saya sempat berharap mereka akan diberangkatkan dengan kapal yang layak. Mungkin kapal besar yang saya lihat di dermaga. Namun saya keliru.

Mereka diarahkan ke sebuah kapal yang jauh lebih sederhana. Dalam ingatan saya, kapal itu lebih menyerupai kapal ikan daripada sarana transportasi yang layak untuk membawa orang-orang yang hendak memulai kembali hidup mereka.

Saya terdiam.

Pertanyaan-pertanyaan berdesakan di dada. Bukankah dunia memperhatikan? Bukankah lembaga internasional memiliki sumber daya besar? Mengapa orang-orang yang kehilangan rumah, yang harus memulai dari nol, dipulangkan dalam keadaan seperti ini?

Pertanyaan itu masih hidup dalam ingatan saya hingga hari ini.

Di tengah suasana yang sunyi dan penuh tanda tanya itu, saya terlibat percakapan panjang dengan seorang pastor. Dari caranya berbicara, saya menduga ia adalah salah satu koordinator pengungsi Timor Timur. Awalnya hanya obrolan biasa, tetapi perlahan-lahan berkembang menjadi perdebatan yang berlangsung hampir dua jam.

Kami berbicara tentang jajak pendapat, tentang berbagai persoalan yang melingkupinya, tentang banyak hal yang bagi saya masih menyisakan tanda tanya besar. Saya berbicara tentang kecurangan yang saya lihat, tentang suara-suara yang tidak pernah didengar. Saya berbicara sebagai seorang integrasionis—bukan dengan amarah, tetapi dengan kepedihan.

Pastor itu mendengarkan dengan tenang. Ia berbicara dari sudut yang berbeda. Dan kami berdebat—bukan untuk saling mengalahkan, tetapi untuk saling memahami. Namun pada akhirnya, tidak ada yang berhasil meyakinkan yang lain.

Ketika perdebatan itu berakhir dan kami hendak berpisah, ia mengucapkan kalimat yang hingga hari ini masih terpatri kuat dalam ingatan saya:

"Maaf, dunia tidak bisa menerima Timor yang integrasi."

Saya terdiam.

Saya tidak tahu apakah orang akan setuju atau tidak dengan pernyataan itu. Namun bagi saya, kalimat itu merangkum seluruh perasaan kaum integrasionis pada masa itu: bahwa sebelum suara mereka didengar, sebelum harapan mereka dipertimbangkan, dunia telah lebih dahulu menentukan pilihan mana yang bisa diterima dan mana yang tidak.

Tak lama setelah percakapan itu, tibalah saat yang paling berat.

Waktu keberangkatan semakin dekat. Di tengah keramaian dermaga, ketika perpisahan benar-benar tidak bisa dihindari lagi, saya melihat sesuatu yang hingga kini masih sulit saya lupakan.

Air mata ibu saya mulai mengalir.

Dengan suara bergetar, ia berpesan agar saya menjaga diri baik-baik.

Pesan itu sederhana. Tapi pada saat itu, kata-kata itu terasa begitu dalam—sebuah doa, sebuah ikatan, sebuah harapan yang ia titipkan di antara isak tangis.

Kami tidak tahu kapan akan bertemu kembali. Tidak tahu bagaimana masa depan akan berjalan. Tidak tahu apakah hubungan antara Indonesia dan Timor Timur suatu hari akan normal lagi.

Saya berusaha terlihat kuat. Namun di lubuk hati yang paling dalam, saya merasakan kesedihan yang sama.

Ketika kapal perlahan menjauh dari dermaga, saya memandanginya hingga lenyap dari pandangan. Dalam benak saya, perpisahan hari itu terasa seperti perpisahan yang sesungguhnya. Saya membayangkan butuh bertahun-tahun, puluhan tahun, sebelum hubungan diplomatik dapat terjalin kembali.

Saya keliru.

Sejarah berjalan dengan caranya sendiri.

Pada 20 Mei 2002, Timor Timur resmi menjadi Timor Leste. Tidak sampai tiga tahun setelah perpisahan itu, hubungan diplomatik telah terjalin. Apa yang tampak mustahil perlahan menjadi kenyataan.

Tapi cepatnya perubahan politik tidak pernah menghapus kenangan tentang hari itu.

Yang paling saya ingat bukanlah pidato pemimpin dunia, bukan pula keputusan politik yang mengubah peta. Yang paling saya ingat adalah air mata seorang ibu di dermaga. Dan kalimat seorang pastor yang berkata bahwa dunia tidak bisa menerima Timor yang integrasi.

Bertahun-tahun telah berlalu.

Namun setiap kali saya mengenang peristiwa itu, saya kembali menyadari bahwa sejarah tidak hanya terdiri dari perjanjian, diplomasi, atau keputusan para penguasa.

Sejarah juga terdiri dari air mata perpisahan, harapan yang kandas, keluarga yang tercerai oleh keadaan, dan suara-suara yang perlahan tenggelam di tengah gemuruh dunia.

Dan selama masih ada yang mengingat serta menuliskannya, suara-suara itu tidak akan pernah benar-benar hilang.

Bagi saya, integrasi bukanlah sekadar pilihan politik—ia adalah bagian dari perjalanan batin yang tak bisa dibantah begitu saja oleh siapa pun, bahkan oleh dunia sekalipun. Karena keyakinan, seperti halnya cinta, tidak bisa dihapus dengan keputusan sepihak.

Ia tetap hidup. Dalam ingatan. Dalam narasi. Dan dalam keberanian untuk terus menuliskan kisah yang pernah terjadi.


Bali, 1999

Dikenang, bukan dilupakan.

Sumber

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama