Saat persiapan diperbatasan ada ratusan RPKAD (Baret Merah) yang diturunkan, salah satu penugasannya ialah melatih perang warga NTT dan warga Timor Portugis (Timpor) pro integrasi. Mereka yang menyusup masuk ke Timpor kemudian dipecah menjadi satgas/tim kecil dengan nama cantik perempuan yakni Tim Susi, Tim Umi, dan Tim Tuti. Mereka survey guna menghitung kekuatan di perbatasan dan mencari jalan darat untuk kemungkinan masuk bawa pasukan yang lebih banyak. Menghitung kekuatan musuh dan membaca medan tempur. Sesekali "cek ombak" hit and run terhadap kekuatan musuh. Kata sandi prajurit Baret Merah ini ialah Nanggala. Mereka saat bertemu dihutan, bahkan tanpa bertemu muka akan berujar/berkata dalam lirih suara mengucap: "nanggala". Sandi ini terus dipertahankan, khususnya saat penugasan didalam hutan hingga puluhan tahun kedepan.
Keputusan intelejen Indonesia untuk langkah diperbatasan ini, segera dilakukan setelah membaca situsi Timpor paska Portugis tak mampu mengendalikan kondisi jajahannya, dan kabur begitu saja ke Pulau Atauro pada akhir Agustus 1975. Portugis meninggalkan daratan Timpor dalam kondisi berdarah-darah menyusul konflik antar partai politik yang berebut kekuasaan. Jakarta terkaget-kaget dengan munculnya kudeta yang diikuti konflik bersenjata dan kaburnya sang penjajah karena menyerah dengan keadaan dilapangan.
Sikap Portugis itu membenarkan dokumen yang dibongkar oleh intelejen Indonesia saat atase Portugis sedang menuju Timpor dan pesawat transit di wilayah Indonesia. Operasi "Kuta" sudah mengetahui beberapa minggu sebelumnya. Dokumen rahasia Portugis konfirm kemudian dengan kondisi di Timpor: "Portugis berencana meninggalkan Timpor begitu saja".
Bak hukum rimba karena tak ada satupun otoritas tunggal yang kendalikan situasi dan tak ada pula instansi sipil yang berjalan efektif dan efisien, kondisi menjadi tak ada kepastian. Baku bunuh terjadi, bahkan diantara anggota keluarga. Pilihan politik seakan mengalahkan segalanya kala itu.
Kekuatan Partai Politik yang memiliki sayap militer, terlihat menguasai perebutan hegemoni kekuasaan di daratan Timpor, yakni Fretilin. Dua kekuatan lainnya, UDT dan Apodeti terdesak, namun bukan berarti memiliki posisi yang stabil terus menerus. Ada kasus di Dili, Fretilin bermusuhan dengan Apodeti, namun di distrik lainnya, kedua partai tersebut berkoalisi. Begitu pula dengan UDT. Nuansa politis amat kental, selama itu menguntungkan kedua pihak didistriknya maka "tak ada musuh abadi, yang ada adalah soal kepentingan". Ya, kepentingan keselamatan di distrik atau kepentingan lainnya. Polarisai yang longgar diantara parpol yang berebut kekuasan berlangsung antara Agustus hingga September 1975.
Di saat Apodeti menghitung dengan cermat menjadi parpol yang tak memiliki milisi kuat, tetangga yang lebih mumpuni dihubungi. Kini bukan hanya pengakuan atau ajakan politik layaknya sejak tahun 1974, namun lebih teknis yaitu meminta bantuan militer. UDT yang lebih kuat, akhirnya memutuskan mengikuti jejak Apodeti.
Guna memukul balik musuh, persiapan dilakukan seperti diuraikan pada awal tulisan diatas. Dipanggung internasional, Mr. Alex (Ali Alatas) sering mendapat serangan diplomatik dengan tema utama: "kenapa masuk ke Timpor, invasi, dan sejenisnya". Beliau berujar dengan tenang: "kalau saja Portugis mampu mengendalikan situasi saat ada konflik, maka Indonesia tidak akan masuk".
Admin
Timtim Files
Intelijen: Kacau, inilah Alasan Indonesia Menyerbu Masuk (Invasi) ke Timtim 1975
