Penangkapan pemimpin Fretilin, Xanana Gusmao, dilakukan di Dili, Timor Timur, pada 20 November 1992 oleh Satgas Nanggala X/Timor Timur dari Kopassus yang dipimpin Letkol Mahidin Simbolon. Xanana ditangkap hidup-hidup di rumah persembunyian tanpa perlawanan sebelum dibawa ke kediaman Panglima Komando Pelaksanaan Operasi TNI Timor Timur, Brigjen Theo Syafei.
Dalam wawancara pada Podcast Brigade Kompas com yang tayang Kamis (28/5/2026), Mahidin Simbolon menceritakan bahwa Theo Syafei sempat terkejut melihat langsung sosok Xanana yang selama ini hanya dikenal melalui laporan operasi dan foto intelijen. Saat dibawa ke rumah Theo, Xanana disebut berada dalam kondisi lemah dan masih mengenakan pakaian sederhana usai penangkapan.
Perkembangan operasi itu kemudian segera dilaporkan ke Jakarta melalui jalur komando militer. Pada saat bersamaan, Presiden Soeharto diketahui sedang melakukan kunjungan kerja ke Mesir, sementara komunikasi diteruskan melalui Panglima ABRI Jenderal Try Sutrisno untuk menyampaikan hasil operasi penangkapan tersebut.
Sekitar 10 menit setelah laporan diteruskan, Theo Syafei menyampaikan arahan Presiden Soeharto berupa pesan singkat “ojo dipateni” yang berarti “jangan dibunuh”. Menurut Mahidin, arahan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah menghendaki Xanana tetap hidup meskipun operasi memiliki instruksi menangkap target hidup atau mati.
Mahidin menambahkan bahwa tidak terjadi baku tembak ataupun perlawanan saat operasi berlangsung. Xanana disebut ditangkap di bungker sebuah rumah persembunyian, sehingga proses penangkapan berjalan tanpa insiden kekerasan.
