Ketika Arnaldo digeser
Pergantian Arnaldo pada 1978 dapat dilihat sebagai salah satu titik penting dalam perubahan keseimbangan antara pendekatan politik-kultural dan pendekatan keamanan di Timor Timur. Arnaldo tidak kemudian meninggalkan Indonesia setelah kehilangan jabatannya. Sebaliknya, ia tetap berada dalam kehidupan politik Indonesia dan bahkan kemudian menjadi anggota DPR RI. Ini adalah fakta yang sangat penting karena menunjukkan bahwa kritik Arnaldo kepada pemerintah tidak sama dengan penolakan terhadap Indonesia. Ia dapat mempertahankan keyakinannya bahwa Timor Timur seharusnya bersama Indonesia sekaligus mengkritik cara negara menjalankan pemerintahan di wilayah tersebut.
Karena itu, pergantian Arnaldo dapat dibaca bukan sekadar sebagai pergantian pejabat, tetapi sebagai perubahan kecenderungan dalam model pemerintahan. Pendekatan yang menempatkan masyarakat dan budaya Timor sebagai pintu utama Integrasi semakin tersisih oleh struktur pemerintahan yang membutuhkan stabilitas keamanan dan kerja sama erat dengan aparat. Dengan kata lain, dapat muncul sebuah tesis bahwa pergantian Arnaldo merupakan salah satu titik ketika pendekatan keamanan mulai mengalahkan pendekatan politik-kultural dalam menjalankan Integrasi Timor Timur. Ini tidak berarti semua kebijakan setelah Arnaldo hanya berisi militerisme, tetapi keseimbangan di antara keduanya telah berubah.
Guilherme dan perubahan keseimbangan kekuasaan
Setelah Arnaldo tampil Guilherme Maria Gonçalves sebagai gubernur kedua. Kehadirannya menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia tetap membutuhkan figur lokal Timor sebagai wajah pemerintahan. Namun persoalannya bukan hanya siapa yang duduk sebagai gubernur. Pertanyaan yang lebih besar adalah seberapa besar kewenangan seorang gubernur sipil di tengah sistem keamanan yang sangat kuat. Timor Timur saat itu bukan wilayah administratif biasa. Karena perang gerilya masih berlangsung, militer memiliki alasan sekaligus kekuatan untuk memainkan peranan besar dalam pemerintahan. Hubungan antara pejabat sipil dan aparat keamanan karena itu menjadi salah satu persoalan utama sepanjang masa Integrasi.
Dari titik ini, muncul ruang bagi elite Timor untuk memainkan politik yang lebih rumit. Seorang pemimpin lokal tidak harus memilih antara menjadi bagian dari Indonesia atau menjadi lawan Indonesia secara langsung. Ia juga dapat menggunakan struktur yang ada untuk memperkuat posisinya sendiri. Dan pada tahap berikutnya, tokoh yang paling menarik dalam hal ini adalah Mário Carrascalão.
Carrascalão dan politik yang cerdik
Ketika Mário Carrascalão menjadi gubernur pada 1982, ia kemudian bertahan sekitar satu dekade, jauh lebih lama daripada para pendahulunya. Lamanya masa jabatan ini penting karena memberikan waktu yang cukup bagi seorang politisi untuk memahami struktur kekuasaan, membangun hubungan, memperluas jaringan, dan menciptakan modal politik. Carrascalão tidak hidup di luar sistem Indonesia. Ia justru berada di tengah-tengahnya. Ia memahami Jakarta, memahami birokrasi, memahami masyarakat Timor, dan juga memahami bahwa militer memiliki kekuatan besar dalam kehidupan politik Timor Timur.
Kecerdikan Carrascalão dapat dilihat dari kemampuannya membaca hubungan tersebut. Ia tidak perlu melawan militer dari luar sistem untuk mendapatkan ruang politik. Ia masuk ke dalam sistem Indonesia, memperoleh legitimasi dari Jakarta, bekerja dalam lingkungan pemerintahan yang sangat dipengaruhi aparat keamanan, dan menggunakan struktur negara yang tersedia untuk menjalankan kekuasaannya. Namun setelah memiliki posisi, ia tidak sekadar menjadi orang yang digunakan oleh sistem. Ia juga dapat menggunakan sistem itu untuk memperkuat dirinya sendiri, memperbesar ruang politik sipil, memperjuangkan kepentingan masyarakat Timor, dan secara bertahap membangun otonomi politik yang semakin luas. Dalam arti inilah Carrascalão dapat disebut cerdik: ia memahami bahwa dalam politik, kadang-kadang orang tidak perlu menghancurkan sebuah struktur untuk mengubah keseimbangan di dalamnya.
Hubungan Carrascalão dengan militer karena itu tidak harus dipahami sebagai hubungan satu arah. Militer membutuhkan seorang tokoh Timor yang dapat memberikan wajah sipil dan legitimasi lokal bagi pemerintahan, sedangkan Carrascalão membutuhkan struktur negara dan dukungan keamanan untuk menjalankan kekuasaannya. Hubungan itu menjadi semacam pertukaran kepentingan. Namun semakin kuat posisi Carrascalão, semakin besar pula kemampuannya untuk menggunakan kedudukannya bagi kepentingannya sendiri. Ia dapat memanfaatkan struktur yang pada awalnya membatasi dirinya untuk memperoleh ruang yang lebih besar bagi dirinya dan masyarakat Timor.
Dari gubernur menjadi aktor politik
Di sinilah perjalanan Carrascalão menjadi paradoks. Ia memperoleh legitimasi sebagai gubernur melalui sistem Indonesia, tetapi dari posisi itu ia kemudian membangun hubungan yang semakin luas di luar kepentingan resmi pemerintah. Kontaknya dengan Xanana Gusmão pada 1983 menjadi salah satu contoh penting dalam perjalanan politiknya. Apa sebenarnya yang sedang dilakukan Carrascalão ketika membangun kontak tersebut? Ia juga berulang kali berbicara tentang perlunya memperbesar peran sipil dan masyarakat Timor. Dengan demikian, sulit melihatnya hanya sebagai “boneka militer”, tetapi juga terlalu sederhana jika langsung mengatakan bahwa sejak awal ia merupakan arsitek perjuangan kemerdekaan.
Penafsiran yang lebih menarik adalah bahwa Carrascalão merupakan politisi yang sangat pragmatis. Ia memahami bahwa kekuasaan tidak selalu harus dilawan; kekuasaan juga dapat dinegosiasikan dan dimanfaatkan. Ia masuk ke dalam sistem, memperoleh kekuatan dari sistem tersebut, tetapi kemudian menggunakan sebagian kekuatan itu untuk membangun ruang politiknya sendiri. Ketika keadaan politik berubah, modal politik yang ia kumpulkan selama bertahun-tahun menjadi sangat berharga. Dengan demikian, perjalanan Carrascalão memperlihatkan bagaimana seorang elite lokal dapat menggunakan negara untuk memperkuat posisi politiknya, lalu menggunakan posisi politik tersebut ketika arah sejarah berubah.
Arnaldo dan Carrascalão: dua wajah politik Timor
Jika Arnaldo dan Carrascalão dibandingkan, kita dapat melihat dua gaya politik yang berbeda. Arnaldo lebih dekat dengan politik prinsip. Ia memilih Integrasi dengan Indonesia, tetapi menginginkan Integrasi yang menghormati kebudayaan, martabat, dan karakter masyarakat Timor. Ketika negara menyimpang dari apa yang ia anggap benar, ia mengkritik tanpa meninggalkan pilihannya terhadap Indonesia. Carrascalão tampil dengan cara berbeda. Ia lebih pragmatis dan lebih adaptif terhadap struktur kekuasaan. Ia memahami bahwa untuk mengubah keadaan, seseorang harus terlebih dahulu memiliki posisi di dalam sistem. Jika Arnaldo lebih percaya bahwa Integrasi harus memenangkan hati masyarakat, Carrascalão tampak memahami bahwa politik membutuhkan kemampuan untuk membaca dan memanfaatkan keseimbangan kekuasaan.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa sejarah Timor Timur bukan hanya sejarah tentang Indonesia versus FRETILIN. Di dalam masyarakat Timor sendiri terdapat berbagai gaya politik, berbagai strategi, dan berbagai cara memandang masa depan. Ada orang yang mempertahankan pilihan Integrasi sekaligus mengkritik pemerintah Indonesia. Ada orang yang bekerja di dalam sistem dan secara perlahan membangun kekuatan politik sendiri. Ada pula orang yang akhirnya bergerak ke arah perjuangan kemerdekaan. Semua itu merupakan bagian dari dinamika masyarakat Timor dan tidak dapat dihapus hanya karena sejarah kemudian berakhir pada 1999.
Mengapa dua orang Timor yang sama-sama pernah berada di dalam sistem Indonesia akhirnya menempuh jalan politik yang berbeda? Apakah perbedaannya terletak pada keyakinan, strategi, pengalaman, atau perubahan keadaan politik?
Tags:
Timor Timur
