Ketika Timor Leste memisahkan diri dari Indonesia pada 1999 dan kemudian resmi merdeka pada 2002, dunia menyambutnya dengan penuh harapan. Negara kecil di Asia Tenggara itu dipandang sebagai simbol kemenangan hak menentukan nasib sendiri. Dukungan internasional mengalir deras. PBB hadir membangun administrasi pemerintahan baru, bantuan asing berdatangan, dan tidak lama kemudian miliaran dolar dari minyak dan gas mulai memenuhi kas negara.
Di mata dunia, Timor Leste seolah akan menjadi contoh sukses negara kecil yang lahir dengan dukungan internasional besar dan kekayaan sumber daya alam melimpah.
Namun setelah lebih dari dua dekade berlalu, kenyataan di lapangan justru memperlihatkan ironi yang sulit diabaikan.
Negara ini telah menghabiskan puluhan miliar dolar dari hasil minyak dan gas, tetapi ekonomi non-migasnya tetap kecil dan rapuh. Pengangguran masih tinggi, sektor swasta lemah, birokrasi sangat besar, dan sebagian besar roda ekonomi masih bergantung pada pengeluaran pemerintah.
Pertanyaannya sederhana tetapi sangat penting: bagaimana mungkin negara dengan dana sebesar itu justru mengalami kesulitan membangun ekonomi yang mandiri?
Jawabannya tidak bisa dilepaskan dari bagaimana negara ini dibentuk sejak awal.
Setelah 1999, administrasi Timor Timur berada di bawah United Nations Transitional Administration in East Timor (UNTAET). Pada masa itulah fondasi pemerintahan baru dibangun. Namun fokus utama dunia internasional saat itu lebih banyak diarahkan pada agenda politik dan simbolik: pembentukan pemerintahan, pemilu, kementerian, dan legitimasi internasional.
Sementara itu, hal yang jauh lebih mendasar justru kurang dipersiapkan secara matang, yaitu bagaimana membangun negara yang benar-benar mampu berdiri secara ekonomi.
Negara baru ini memperoleh struktur politik dengan cepat, tetapi tidak memiliki cukup tenaga teknokrat dan pengalaman untuk mengelola negara modern dengan dana miliaran dolar.
Banyak elite yang kemudian memimpin negara berasal dari latar belakang perjuangan gerilya dan konflik bersenjata. Mereka mungkin berhasil dalam perjuangan politik dan perang, tetapi membangun negara modern membutuhkan kemampuan yang sama sekali berbeda.
Memimpin gerilya membutuhkan keberanian, loyalitas, dan kemampuan bertahan hidup di tengah konflik. Tetapi membangun negara membutuhkan pemahaman ekonomi, disiplin administrasi, tata kelola anggaran, pembangunan industri, pendidikan, investasi, dan visi jangka panjang.
Inilah salah satu paradoks terbesar Timor Leste. Banyak tokoh yang berhasil memenangkan perjuangan politik ternyata menghadapi kesulitan besar ketika harus mengelola negara modern dengan sumber daya keuangan yang luar biasa besar.
Akibatnya, negara berjalan dengan pola yang tidak sehat. Uang minyak masuk dalam jumlah besar, lalu dibelanjakan secara besar-besaran untuk birokrasi, subsidi, proyek negara, dan pengeluaran rutin, tetapi fondasi ekonomi produktif tidak benar-benar tumbuh.
Pemerintah akhirnya menjadi pusat hampir seluruh aktivitas ekonomi.
Di banyak negara maju, sektor swasta menjadi penggerak utama ekonomi. Perusahaan menciptakan pekerjaan, industri berkembang, dan investasi menjadi motor pertumbuhan. Namun di Timor Leste, pemerintah justru menjadi pemain ekonomi terbesar.
Kementerian terus bertambah, birokrasi membesar, dan pekerjaan sebagai pegawai negeri menjadi tujuan utama banyak lulusan muda. Negara menjadi pemberi kerja terbesar sekaligus sumber utama perputaran uang.
Ketika sebuah negara terlalu bergantung pada pemerintah sebagai penggerak ekonomi, sektor swasta menjadi sulit berkembang.
Situasi ini semakin diperburuk oleh pemasukan minyak yang sangat besar. Kekayaan minyak membuat negara merasa selalu memiliki uang untuk menutupi berbagai kelemahan struktural.
Akibatnya, banyak proyek infrastruktur raksasa dibangun dengan ambisi besar.
Pelabuhan modern dibangun dengan harapan menjadi pusat logistik regional. Bandara diperluas dengan kapasitas besar. Proyek listrik nasional dikerjakan dengan biaya sangat mahal. Kawasan industri dan proyek Tasi Mane dipromosikan sebagai masa depan ekonomi negara.
Secara fisik semuanya terlihat modern dan megah.
Namun masalah utamanya adalah ekonomi nyata di belakang proyek-proyek itu belum cukup kuat.
Pelabuhan besar tidak otomatis ramai jika perdagangan masih kecil.
Bandara modern tidak otomatis penuh jika penerbangan internasional dan sektor pariwisata belum berkembang.
Kawasan industri tidak otomatis hidup jika investor belum datang.
Akibatnya, banyak proyek menjadi mahal untuk dipelihara tetapi belum menghasilkan dampak ekonomi yang sebanding.
Fenomena ini dikenal dalam ekonomi sebagai resource curse atau kutukan sumber daya alam. Sebuah negara yang terlalu bergantung pada kekayaan alam sering kali gagal membangun ekonomi produktif jangka panjang.
Kekayaan minyak yang seharusnya menjadi berkah justru menciptakan ketergantungan.
Negara menjadi nyaman hidup dari uang minyak, sementara sektor pertanian, industri, dan usaha produktif berkembang sangat lambat.
Kini tantangan terbesar mulai terlihat semakin jelas.
Ladang minyak utama yang selama ini menopang negara perlahan mulai menurun. Dana minyak yang dulu tampak tidak terbatas ternyata memiliki batas.
Sementara itu, ekonomi non-migas belum cukup kuat untuk menopang negara secara mandiri.
Di sinilah ironi besar itu terasa.
Dulu banyak orang percaya bahwa setelah lepas dari Indonesia, Timor Leste akan langsung berkembang pesat karena dianggap bebas menentukan nasib sendiri.
Namun kenyataannya membangun negara jauh lebih sulit daripada memenangkan perjuangan politik.
Kemerdekaan politik ternyata tidak otomatis membawa kemakmuran ekonomi.
Sebuah negara bisa memiliki bendera sendiri, kursi di PBB, dan pengakuan internasional, tetapi tetap menghadapi kesulitan besar dalam menciptakan lapangan kerja, membangun industri, dan mensejahterakan rakyat.
Hari ini tantangan terbesar Timor Leste bukan lagi perang atau diplomasi internasional.
Tantangan sebenarnya adalah bagaimana membangun ekonomi produktif sebelum uang minyak benar-benar habis.
Dan mungkin di situlah pelajaran terbesar dari perjalanan panjang ini:
membangun negara tidak cukup hanya dengan semangat perjuangan dan romantisme politik.
Negara membutuhkan kompetensi, teknokrasi, disiplin, dan kemampuan mengelola masa depan.
Karena pada akhirnya sejarah tidak hanya menilai bagaimana sebuah negara lahir, tetapi juga bagaimana negara itu mampu bertahan dan memberi kehidupan yang lebih baik bagi rakyatnya.
