Ketika CAVR Menulis Sejarah, Tetapi Arsip PBB Sudah Lebih Dahulu Mencatat Kejahatan FRETILIN
Ada sebuah pertanyaan yang semakin sulit dihindari ketika sejarah Timor-Leste dibaca melalui berbagai sumber, terutama ketika laporan CAVR dibandingkan dengan dokumen internasional yang dibuat jauh lebih dekat dengan waktu terjadinya peristiwa. Pemerintah Timor-Leste sampai sekarang terus meminta Indonesia membantu menemukan jasad Nicolau dos Reis Lobato, tokoh FRETILIN yang gugur dalam perjuangan bersenjata pada 31 Desember 1978. Pada Agustus 2026, Presiden José Ramos-Horta kembali menyampaikan permintaan agar Indonesia menyerahkan atau membantu menemukan jasad Lobato dan pahlawan-pahlawan lainnya yang hingga kini belum ditemukan. Di parlemen Timor-Leste pun persoalan itu disebut sebagai tanggung jawab negara karena mereka telah mengorbankan hidup dalam perjuangan kemerdekaan.
Secara kemanusiaan, pencarian jasad Nicolau Lobato tentu dapat dipahami. Keluarga berhak mengetahui tempat terakhir anggota keluarganya dan seorang tokoh yang kemudian ditetapkan sebagai pahlawan nasional memang layak mendapatkan penghormatan terakhir. Namun persoalan muncul ketika prinsip yang sama tidak terlihat diterapkan secara setara kepada korban lain dalam sejarah Timor-Leste, terutama mereka yang berasal dari kelompok politik yang kalah dan kemudian tersingkir dari narasi utama negara baru tersebut.
Salah satu nama yang paling kuat untuk mempertanyakan persoalan itu adalah Casimiro Assunção de Araújo, putra tokoh APODETI Arnaldo dos Reis Araújo. Kasus Casimiro tidak berdiri hanya berdasarkan cerita keluarga atau kesaksian yang baru muncul setelah Timor-Leste merdeka. Namanya sudah tercatat dalam sebuah dokumen yang berkaitan dengan penyelidikan pada tahun 1976, hanya beberapa minggu setelah rangkaian pembunuhan di Aileu. Justru di sinilah persoalannya menjadi sangat penting, karena dokumen tersebut berasal dari masa ketika peristiwa masih sangat dekat dan informasi mengenai korban masih dapat ditelusuri.
PBB Sudah Mencatat Aileu pada 1976
Dalam laporan yang diteruskan kepada PBB mengenai penyelidikan di Aileu pada Februari 1976, ditemukan sebuah kuburan yang berisi sekitar 60 jenazah anggota APODETI. Laporan tersebut mencatat bahwa setiap jenazah ditemukan dengan tangan terikat di belakang dan sebagian besar tubuh sudah dalam keadaan membusuk sehingga sulit dikenali. Di lokasi itu ditemukan sebuah tas yang berisi Alkitab, salib, obat-obatan, alat cukur, sisir, cermin, medali, buku dan dokumen, buku harian serta buku catatan yang masih memiliki tulisan yang dapat dibaca. Barang-barang tersebut diidentifikasi sebagai milik Casimiro Assunção de Araújo. Laporan itu juga mencatat informasi dari orang-orang yang berada di lokasi bahwa para korban sebelumnya merupakan tahanan FRETILIN.
Dokumen tersebut sangat penting karena memperlihatkan bahwa dunia internasional sudah mengetahui adanya kekerasan terhadap anggota APODETI jauh sebelum CAVR dibentuk. Nama Casimiro sudah muncul dalam arsip pada 1976. Bukan hanya namanya, tetapi juga barang-barang pribadinya ditemukan dalam konteks kuburan massal yang berisi puluhan korban APODETI. Ini berarti persoalan tersebut bukan sesuatu yang baru ditemukan oleh peneliti atau keluarga korban puluhan tahun kemudian.
Lebih penting lagi, penyelidikan itu tidak berhenti pada Aileu. Dokumen yang sama mencatat lokasi kuburan lain di sekitar Aileu dan kemudian berlanjut pada penyelidikan di Same. Di salah satu kuburan ditemukan sekitar 45 jenazah, sementara sebuah identitas yang ditemukan pada salah satu korban mengarah kepada nama lain. Dokumen tersebut dengan demikian memperlihatkan bahwa kekerasan dan pembunuhan terhadap tahanan pada masa konflik internal Timor Timur telah masuk ke dalam catatan internasional sejak 1976.
Dengan kata lain, CAVR tidak pernah bekerja dalam ruang kosong.
Ketika CAVR dibentuk puluhan tahun kemudian untuk mengungkap kebenaran mengenai kekerasan di Timor-Leste, dunia internasional sebenarnya sudah memiliki arsip mengenai Aileu, Same dan berbagai korban dari konflik internal tersebut. CAVR bukan pihak pertama yang menemukan bahwa FRETILIN melakukan kekerasan terhadap lawan politiknya. PBB sudah mencatatnya ketika peristiwa itu masih sangat dekat.
CAVR Tidak Boleh Bertindak Seolah-olah Dunia Tidak Tahu
Di sinilah kritik terhadap CAVR menjadi penting.
CAVR memang mengakui bahwa FRETILIN melakukan pelanggaran dan pembunuhan terhadap lawan-lawan politiknya. Chega! mencatat pembunuhan terhadap tahanan UDT dan APODETI di sejumlah wilayah, termasuk Aileu, Maubisse dan Same. Artinya, CAVR mengetahui bahwa kekerasan internal tersebut memang terjadi.
Tetapi justru karena CAVR mengetahui hal itu, muncul pertanyaan yang lebih serius: mengapa nama Casimiro Assunção de Araújo tidak mendapatkan tempat yang semestinya dalam laporan tersebut, padahal namanya telah tercatat dalam dokumen internasional sejak 1976?
Ini bukan sekadar persoalan apakah satu nama tertinggal dalam sebuah daftar.
Casimiro merupakan bagian dari rangkaian korban APODETI yang sudah dicatat dalam penyelidikan awal setelah peristiwa tersebut. PBB bahkan memiliki informasi mengenai barang-barang pribadinya. Jika sebuah komisi kebenaran bekerja puluhan tahun kemudian dengan mandat untuk menyelidiki sejarah kekerasan, maka dokumen semacam ini seharusnya menjadi bahan penting untuk ditelusuri kembali.
Yang menjadi persoalan bukan hanya apakah CAVR menyebut bahwa "tahanan APODETI dibunuh". Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah CAVR berusaha mengembalikan identitas kepada korban-korban tersebut. Siapa mereka? Di mana mereka ditahan? Siapa yang membawa mereka? Di mana mereka dibunuh? Di mana jasad mereka dikuburkan? Siapa keluarga mereka? Dan apakah jasad mereka masih dapat ditemukan?
Dalam kasus Casimiro, salah satu jawaban awal sebenarnya sudah tersedia dalam arsip internasional sejak 1976.
Dunia Sudah Mencatat, Jadi Mengapa CAVR Tidak?
Di sinilah terdapat ironi yang sulit diabaikan. Sebuah komisi yang menggunakan nama Truth and Reconciliation seharusnya memahami bahwa kebenaran sejarah tidak dimulai ketika komisi tersebut mulai bekerja.
Sejarah Aileu sudah terjadi.
Korban-korbannya sudah ada.
Kuburan mereka sudah ditemukan.
Nama Casimiro sudah tercatat.
PBB sudah menerima laporan mengenai hal tersebut.
Karena itu, CAVR tidak dapat diperlakukan sebagai satu-satunya pintu menuju kebenaran sejarah Timor-Leste. Laporan CAVR harus dibaca bersama arsip PBB, dokumen Portugis, dokumen Indonesia, kesaksian korban, kesaksian keluarga dan berbagai sumber lain yang berasal dari periode tersebut.
Justru perbandingan antarsumber itulah yang dapat menunjukkan apakah sebuah laporan benar-benar lengkap.
Dalam kasus Casimiro, perbandingan itu menimbulkan persoalan yang sangat jelas: PBB mencatat namanya pada 1976, sedangkan CAVR tidak. Bagaimana hal itu bisa terjadi?
Apakah dokumen PBB tersebut tidak diketahui oleh CAVR? Apakah dokumen tersebut diketahui tetapi tidak dianggap penting? Apakah nama Casimiro tercatat dengan bentuk lain sehingga tidak teridentifikasi?
Atau apakah terdapat kelemahan yang lebih besar dalam cara CAVR mengumpulkan dan memilih korban yang dimasukkan ke dalam narasi akhirnya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan tuduhan tanpa dasar. Pertanyaan itu muncul karena terdapat perbedaan yang nyata antara arsip internasional tahun 1976 dan dokumentasi yang muncul puluhan tahun kemudian.
Dan perbedaan tersebut layak dijelaskan.
Aileu dan Same Tidak Boleh Diperkecil Menjadi Catatan Kaki
Persoalan ini juga tidak boleh dipersempit hanya pada satu nama. Aileu, Same dan Maubisse merupakan bagian penting dari konflik internal Timor Timur pada 1975–1976. Orang-orang UDT dan APODETI ditangkap, dijadikan tahanan, dan sebagian kemudian dibunuh.
Dengan demikian, pembunuhan tersebut berbeda dari kematian seorang pejuang yang gugur dalam pertempuran. Mereka yang menjadi korban berada dalam posisi sebagai tahanan. Mereka berada dalam kekuasaan pihak yang menangkap mereka.
Karena itu, pembunuhan terhadap tahanan mempunyai persoalan hukum dan moral yang berbeda dari kematian seseorang di medan perang.
Hal tersebut justru membuat dokumentasi PBB tahun 1976 semakin penting. Dokumen tersebut menunjukkan bahwa persoalan ini telah diketahui sejak awal dan bukan merupakan cerita yang baru dibangun oleh kelompok pro-integrasi setelah 1999.
PBB sudah mencatatnya ketika Timor Timur belum merdeka.
Karena itu, sangat keliru apabila sejarah kekerasan tersebut diperlakukan seolah-olah dunia baru mengetahuinya setelah CAVR menulis Chega!.
Nicolau Lobato dan Casimiro Assunção
Di sinilah perbandingan antara Nicolau Lobato dan Casimiro Assunção menjadi sulit dihindari.
Nicolau Lobato meninggal dalam perjuangan bersenjata melawan Indonesia pada 1978. Ia kemudian menjadi simbol perjuangan kemerdekaan dan ditetapkan sebagai pahlawan nasional Timor-Leste. Pemerintah dan parlemen Timor-Leste sampai sekarang terus mendorong pencarian jasadnya. Pada Agustus 2026, Ramos-Horta kembali meminta Indonesia membantu menemukan jasad Lobato, sementara anggota parlemen juga mendesak pemerintah menjadikan pencarian jasad para pahlawan sebagai prioritas negara.
Casimiro berada dalam sejarah yang berbeda. Ia berasal dari lingkungan APODETI dan namanya muncul dalam dokumentasi mengenai kuburan massal anggota APODETI di Aileu. Barang-barang pribadinya ditemukan di lokasi dan diidentifikasi dalam laporan yang dibuat pada 1976. Para korban di lokasi tersebut disebut sebagai mantan tahanan FRETILIN.
Kedua kasus tersebut memang tidak identik. Lobato adalah pejuang yang gugur dalam konflik bersenjata, sedangkan Casimiro tercatat dalam konteks pembunuhan terhadap tahanan APODETI. Justru perbedaan itulah yang membuat pertanyaan tentang perlakuan terhadap jasad dan memori korban menjadi penting.
Jika negara Timor-Leste menganggap pencarian jasad Lobato sebagai persoalan negara, mengapa pencarian korban APODETI yang dibunuh dalam konflik internal tidak mendapatkan perhatian yang sama?
Jika keluarga Lobato berhak mendapatkan kepastian mengenai tempat jasadnya, mengapa keluarga Casimiro tidak memiliki hak yang sama?
Jika negara meminta Indonesia membuka informasi mengenai makam seorang tokoh FRETILIN, apakah negara tersebut juga bersedia membuka kembali arsip mengenai lokasi pembunuhan dan kuburan korban APODETI?
Pertanyaan itu tidak berarti pencarian jasad Lobato harus dihentikan. Justru sebaliknya, pencarian Lobato dapat menjadi contoh bahwa negara memang mempunyai tanggung jawab untuk mencari orang-orang yang hilang dalam sejarah. Prinsip tersebut seharusnya berlaku kepada semua korban.
Siapa yang Menjadi Korban dalam Sejarah Nasional?
Persoalan yang lebih besar adalah bagaimana sejarah nasional dibentuk setelah sebuah perang berakhir.
Timor-Leste merdeka pada 2002 setelah Jajak pendapat 1999 dan masa administrasi internasional. Kelompok perjuangan kemerdekaan kemudian menjadi bagian penting dari struktur negara baru. Para pejuang dan martir perjuangan mendapatkan tempat dalam upacara kenegaraan, monumen, nama jalan, nama bandara dan berbagai bentuk penghormatan nasional. Nicolau Lobato sendiri menjadi salah satu tokoh paling penting dalam memori nasional Timor-Leste; bahkan pada 2026 sebuah patung dirinya disiapkan untuk ditempatkan di Soibada sebagai penghormatan terhadap warisan sejarahnya.
Sementara itu, banyak orang yang dahulu berada dalam kelompok pro-integrasi meninggalkan Timor-Leste setelah 1999. Mereka membawa pengalaman, kesaksian dan kehilangan mereka ke luar negeri. Dalam situasi seperti itu, terdapat risiko bahwa sebagian korban akhirnya tidak lagi mempunyai ruang politik yang cukup kuat untuk mempertahankan ingatan mengenai keluarganya.
Di sinilah sebuah komisi kebenaran harus bekerja lebih keras.
Korban yang berasal dari kelompok yang kalah secara politik justru harus mendapat perhatian, karena mereka tidak memiliki kekuatan politik yang sama untuk mempertahankan memori mereka.
Kalau tidak, sejarah nasional dapat berubah menjadi sejarah para pemenang.
CAVR Harus Dibaca, Tetapi Tidak Boleh Dianggap Sebagai Kata Terakhir
Mengkritik CAVR tidak berarti seluruh laporan Chega! harus dibuang. CAVR tetap merupakan sumber penting untuk memahami sejarah Timor-Leste. Bahkan pengakuan CAVR mengenai pembunuhan terhadap tahanan UDT dan APODETI merupakan bagian penting dari dokumentasi sejarah tersebut.
Namun CAVR tidak boleh ditempatkan sebagai sumber yang kebal dari pemeriksaan.
Sebuah laporan sejarah harus dapat dibandingkan dengan sumber lain. Jika terdapat dokumen PBB yang dibuat pada 1976, maka dokumen tersebut harus diperiksa bersama laporan CAVR. Jika terdapat kesaksian keluarga korban yang berbeda, kesaksian tersebut harus diperiksa. Jika terdapat nama yang tercatat dalam arsip internasional tetapi tidak muncul dalam laporan CAVR, maka ketidaksesuaian itu harus dijelaskan. Itulah cara kerja sejarah yang sehat.
Dunia sudah mencatat Aileu. Dunia sudah mencatat Same. Dunia sudah mencatat Maubisse. PBB sudah memiliki catatan mengenai korban APODETI. Dan dalam kasus Aileu, PBB bahkan sudah mencatat nama Casimiro Assunção de Araújo pada 1976.
Karena itu, pertanyaan mengenai Casimiro bukanlah upaya untuk menciptakan sejarah baru. Justru sebaliknya, pertanyaan itu muncul karena ada sejarah lama yang sudah tercatat tetapi kemudian tidak mendapatkan tempat yang sebanding dalam narasi berikutnya.
Jika Lobato Dicari, Mengapa Casimiro Tidak?
Inilah pertanyaan yang pada akhirnya harus dijawab oleh pemerintah Timor-Leste dan oleh siapa pun yang berbicara mengenai rekonsiliasi.
Pencarian jasad Nicolau Lobato merupakan hak dan tanggung jawab yang dapat dipahami. Negara mempunyai alasan untuk mencari tokoh sejarahnya yang hilang dan keluarga mempunyai hak untuk mengetahui tempat jasadnya.
Tetapi prinsip yang sama seharusnya berlaku kepada korban Aileu dan Same.
Jika Indonesia diminta membuka arsip untuk menemukan jasad Lobato, Timor-Leste juga seharusnya membuka seluruh arsip mengenai Aileu dan Same.
Jika pemerintah menganggap bahwa jasad seorang pejuang harus ditemukan dan dimakamkan dengan layak, pemerintah juga harus bersedia membantu keluarga korban APODETI mencari jasad anggota keluarganya.
Jika negara ingin berbicara tentang rekonsiliasi, maka makam korban dari konflik internal tidak boleh dipisahkan berdasarkan siapa yang kemudian menang dan siapa yang kemudian kalah.
Sejarah Tidak Dimulai Ketika CAVR Mulai Menulis
Pada akhirnya, kasus Casimiro Assunção de Araújo menghadirkan pertanyaan yang jauh lebih besar daripada nasib satu orang. Sejarah tidak dimulai ketika CAVR mulai menulis. Peristiwa Aileu, Same dan Maubisse sudah terjadi dan telah menjadi perhatian internasional sejak 1975–1976. Kesaksian mengenai pembunuhan sudah ada, korban sudah ada, kuburan sudah ditemukan dan PBB telah menerima serta menyimpan catatan mengenai kekerasan tersebut. Dalam kasus Aileu bahkan terdapat daftar korban dan nama Casimiro Assunção de Araújo sudah tercatat dalam dokumen PBB pada 1976, ketika peristiwa itu masih sangat dekat dengan waktu kejadiannya. Karena itu, CAVR tidak dapat diperlakukan sebagai sumber pertama atau satu-satunya yang mengungkap kekerasan FRETILIN terhadap lawan-lawan politiknya. Laporan CAVR harus dibaca bersama arsip PBB dan berbagai sumber sezaman lainnya. Justru karena PBB telah mencatat nama Casimiro sejak 1976, sementara nama tersebut tidak memperoleh tempat yang sebanding dalam dokumentasi CAVR puluhan tahun kemudian, pertanyaan mengenai kelengkapan dan cara CAVR menyusun sejarah korban APODETI menjadi semakin kuat dan layak dijawab secara terbuka.
Sejarah Aileu sudah ada sejak 1975–1976. Kesaksian sudah ada. Korban sudah ada. Kuburan sudah ditemukan. PBB sudah mencatatnya. Nama-nama korban sudah masuk ke dalam dokumen internasional ketika Timor Timur masih berada dalam konflik.
Karena itu, laporan CAVR harus dibaca sebagai satu bagian dari kumpulan sumber sejarah, bukan sebagai satu-satunya ukuran kebenaran.
Dan apabila CAVR memang dibentuk untuk mencari kebenaran dan membangun rekonsiliasi, maka pertanyaan tentang Casimiro harus dijawab secara terbuka: mengapa PBB dapat mencatat namanya pada 1976 dalam konteks kuburan massal sekitar 60 anggota APODETI, sementara nama tersebut tidak memperoleh tempat yang sebanding dalam dokumentasi CAVR puluhan tahun kemudian?
Pertanyaan itu semakin kuat karena pada saat yang sama negara Timor-Leste terus menuntut agar Indonesia membantu menemukan jasad Nicolau Lobato dan para pahlawan lainnya.
Tidak ada alasan untuk mempertentangkan kedua tuntutan tersebut. Lobato layak dicari. Casimiro juga layak dicari. Korban Aileu layak dikenang. Korban Same layak dikenang. Dan keluarga mereka berhak mendapatkan kepastian.
Yang perlu dipertanyakan adalah mengapa perhatian negara begitu kuat terhadap jasad seorang pahlawan yang gugur dalam perang, sementara korban yang menurut catatan PBB dibunuh setelah menjadi tahanan justru jauh lebih mudah hilang dari ingatan nasional.
Jika Timor-Leste benar-benar ingin membangun rekonsiliasi, maka jawabannya bukan dengan melupakan Lobato. Jawabannya adalah memperluas pencarian kepada semua korban.
Karena rekonsiliasi yang hanya mengingat orang-orang yang menjadi bagian dari kemenangan politik belum sepenuhnya menjadi rekonsiliasi sejarah.
Dan nama Casimiro Assunção de Araújo, yang sudah tercatat dalam arsip PBB sejak 1976, menjadi pengingat bahwa masih ada bagian sejarah Timor-Leste yang menunggu untuk dibuka kembali.