Masalahnya bukan pada kemerdekaan, melainkan pada cara sebagian orang memperlakukan kritik terhadap kemerdekaan itu. Kritik dari luar dianggap datang dari “milisi” atau “otonomista” yang tidak senang melihat Timor-Leste merdeka. Anehnya, ketika kritik datang dari orang Timor-Leste sendiri, tuduhannya kadang tidak jauh berbeda. Kalau begitu, sebenarnya kapan kritik boleh dianggap sebagai masukan?
Sebuah negara yang percaya diri dengan masa depannya tidak perlu melihat setiap kritik sebagai ancaman. Kritik dari luar tidak otomatis merupakan serangan, dan kritik dari dalam tidak otomatis merupakan pengkhianatan. Jangan sampai setiap suara yang berbeda langsung dicari labelnya, lalu orangnya diserang sebelum argumennya dijawab.
Negara yang sehat bukan negara yang tidak pernah dikritik. Negara yang sehat adalah negara yang mampu mendengar kritik, memilah mana yang keliru dan mana yang benar, lalu menggunakan yang benar untuk memperbaiki dirinya. Kalau setiap kritik selalu dijawab dengan “milisi”, “otonomista”, atau “tidak senang melihat kami merdeka”, lama-lama yang dibela bukan lagi masa depan negara, melainkan sebuah narasi yang tidak boleh disentuh.
Kemerdekaan semestinya melahirkan kepercayaan diri, bukan ketakutan terhadap kritik.
