RUMAH YANG DIKEPUNG: Ketika Seorang Ibu Berdiri di Antara Anak-anak dan Kematian


Setelah Ayah ditangkap oleh orang-orang FRETILIN, rumah kami tidak lagi menjadi tempat yang benar-benar aman. Ketakutan tidak hanya datang melalui kabar tentang orang-orang yang ditangkap, dibawa pergi, atau tidak pernah kembali. Pada suatu hari, ketakutan itu datang sendiri dan berhenti tepat di depan pintu rumah kami. Alarico Fernandes datang bersama sejumlah orangnya. Ia datang bukan sebagai seseorang yang sedang berkunjung. Kehadirannya membawa suasana lain: orang-orang berdiri di luar rumah, ketegangan memenuhi halaman, dan sejak awal kami memahami bahwa mereka datang bukan untuk sekadar berbicara, melainkan untuk mencari sesuatu.

Alarico sebenarnya mengenal Ayah dan tahu siapa keluarga kami. Ia bukan orang asing. Ia tahu rumah itu dan tahu siapa yang tinggal di dalamnya. Namun di hadapan orang-orang yang datang bersamanya, ia berpura-pura tidak mengenal kami. “Zeca yang mana?” tanyanya, seolah-olah nama Ayah sama sekali asing baginya. Ia bahkan berpura-pura hendak memeluk Ibu, tetapi Ibu menepisnya. Tidak ada keramahan yang tersisa dalam pertemuan itu. Yang ada hanya ketegangan antara seorang ibu yang sedang melindungi anak-anaknya dan orang-orang yang datang dengan tuduhan serta kekuasaan di tangan mereka.

“Jangan kurang ajar!” kata Ibu dengan tegas. “Anda datang ke sini sebagai orang penting, sebagai ema boot. Karena itu, Anda harus menghormati kami. Kalau kalian mau pergi ke luar, silakan. Kami tidak akan keluar dari sini. Kalau kami harus mati, saya akan mati di sini bersama anak-anak saya.”

Kalimat itu bukan sekadar keberanian yang diucapkan dalam kemarahan. Bagi Ibu, itu adalah keputusan. Ia mungkin tidak tahu apa yang akan terjadi beberapa menit kemudian. Ia tidak tahu apakah mereka akan membawa kami pergi, menangkap kami, atau melakukan sesuatu yang lebih buruk. Tetapi ia tahu satu hal: anak-anaknya tidak akan ditinggalkannya.

Kami tetap berada di dalam rumah, sementara orang-orang Alarico mengepungnya. Di antara mereka terdapat Serafin, seseorang yang dahulu pernah tinggal di Bairro Formosa dan bukan orang asing bagi keluarga kami. Ia pernah datang ke rumah kami dan mengenal kami. Putranya kemudian hari dikenal sebagai Pedro Klamar Fuik, seorang komandante dari Atsabe. Kini Serafin berdiri di luar rumah bersama orang-orang yang datang mengepung kami. Ada sesuatu yang terasa ganjil melihat orang yang dahulu kami kenal berdiri di sisi lain pintu, sementara rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung justru berubah menjadi tempat yang membuat kami merasa terperangkap.

Namun sebelum Ayah dibawa pergi, ia telah meninggalkan sebuah pesan kepada Ibu. Pesan itu tampaknya sederhana, tetapi pada hari itu menjadi sangat penting. “Tina, mereka boleh memeriksa semua lemari yang ada. Tetapi yang satu ini harus kamu larang. Katakan kepada mereka bahwa itu lemarimu.” Ibu mengingat pesan itu karena di dalam lemari tersebut tersimpan berbagai dokumen yang berkaitan dengan UDT, APODETI, dan FRETILIN. Dalam keadaan normal, dokumen-dokumen itu hanyalah arsip, tetapi perang mengubah arti segala sesuatu. Selembar surat dapat menjadi tuduhan, sebuah nama dapat menjadi alasan penangkapan, dan catatan hubungan politik dapat berubah menjadi bukti yang membahayakan seseorang. Ayah memahami hal itu. Karena itulah ia berpesan agar lemari tersebut jangan dibuka.

Ketika Alarico dan orang-orangnya masuk, rumah kami berubah menjadi tempat penggeledahan. Lemari demi lemari dibuka, berbagai tempat diperiksa, dan sejumlah barang diambil. Salah satunya adalah keris besar milik Tio Valenti, bapak baptis saya. Serafin berbeda. Ia tidak ikut mengambil barang-barang tersebut. Mungkin karena ia mengenal keluarga kami, atau mungkin karena hati nuraninya membuatnya merasa tidak nyaman melihat apa yang sedang terjadi.

Dalam keadaan seperti itu, manusia mungkin tidak selalu memiliki keberanian untuk menjadi pahlawan. Tetapi seseorang masih dapat memilih untuk tidak menjadi pelaku. Dan pada hari itu, Serafin memilih untuk tidak ikut mengambil apa yang bukan miliknya.

Kemudian perhatian Alarico tertuju pada sesuatu yang lain: sebuah kabel telepon. Ia menunjuk kabel itu dan bertanya, “Nah... kabel telepon ini datang dari mana? Radio Ramelau, kah?” Ibu menjawab tenang, “Saya tidak tahu. Radio Ramelau memang saya dengar, tetapi dari mana datangnya saya tidak tahu.”

Alarico belum puas. Ia kemudian mengarahkan pembicaraan kepada senjata. “Camarada tahu. Dulu ketika Indonesia datang, mereka membawa senjata, granat dan berbagai material dengan kapal. Semua itu diserahkan kepada Arnaldo, mertua Anda. Pasti Senhora tahu.” Tetapi Ibu tidak mundur. “Mertua saya mendirikan partai untuk integrasi ini, bukan untuk memperuncing, bukan untuk mempertajam konflik. Kalau mertua saya menerima senjata dari Indonesia, perang sudah lama pecah. Perang bukan tujuan kami ketika mendirikan partai. Kami tidak seperti kalian.”

Alarico terus mendesak. “Pasti senjata disembunyikan di sini!”

Ibu telah sampai pada titik ketika rasa takut tidak lagi memiliki tempat. Ia tahu apa yang mungkin terjadi dan memahami bahwa setiap jawaban yang dianggap salah dapat menjadi alasan bagi orang-orang di hadapannya untuk bertindak lebih jauh. Namun ia juga tahu bahwa menyerah kepada ketakutan tidak akan menyelamatkan keluarganya. Sementara itu, Alarico semakin kesal karena dokumen yang dicarinya tidak ditemukan. “Di mana dokumennya disimpan? Cepat beritahu, atau saya tembak!”

Ancaman itu membuat suasana di dalam rumah semakin tegang. Serafin kemudian membujuk Alarico agar tidak menembak. “Mereka hanya Ibu dan anak-anak,” katanya. Namun Ibu tetap berdiri. “Saya sudah menyampaikan semuanya. Silakan lakukan apa yang ingin Anda lakukan. Sekarang kalau kalian mau membunuh kami, silakan. Tembak kami semua. Tembak saya, dan tembak juga anak-anak saya.”

Alarico keluar-masuk rumah. Anak buahnya terus memeriksa berbagai tempat. Mereka mencari sesuatu yang sejak awal mereka yakini ada di rumah itu. Tetapi mereka tidak menemukannya. Waktu berlalu dan ketegangan perlahan berubah menjadi kelelahan. Akhirnya Alarico berkata, “Oh... kita tidak menemukan apa-apa.”

Bagi orang yang mengucapkannya, kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Bagi keluarga kami, kalimat itu berarti kami masih hidup dan pada hari itu, untuk sementara, kematian berlalu begitu saja di depan pintu rumah kami.

Tetapi pengalaman seperti itu tidak pernah benar-benar pergi. Puluhan tahun kemudian, saya memahami bahwa perang tidak selalu hadir dalam bentuk pertempuran besar. Kadang-kadang perang datang melalui pintu rumah. Ia hadir dalam suara orang-orang yang mengepung halaman, dalam ketukan yang membuat jantung berdegup lebih cepat, dalam tatapan seorang anak kepada ibunya untuk mencari jawaban, dan dalam ketakutan bahwa setiap kata yang salah dapat menentukan hidup atau mati.

Namun dari peristiwa itu saya juga belajar sesuatu yang lain: bahkan di tengah perang, manusia tidak seluruhnya kehilangan kemanusiaannya. Serafin adalah bagian dari ingatan itu. Ia mengenal keluarga kami. Ia melihat penggeledahan itu dan melihat ketakutan kami. Ketika Alarico mengancam akan menembak, ia berusaha membujuknya agar tidak melakukannya.

Saya tidak ingin menghapus peran orang seperti Serafin dari kisah ini. Justru sebaliknya, saya ingin mengingatnya sebagai bagian dari kenyataan sejarah kami. Ia berada di sana, melihat apa yang terjadi, dan meskipun tidak mampu menghentikannya, ia masih memilih batas yang tidak ingin dilampauinya.

Sebab sejarah tidak hanya terdiri atas orang-orang yang mengangkat senjata, mereka yang memerintah, mereka yang menang, atau mereka yang kalah. Sejarah juga dibentuk oleh orang-orang yang, ketika memiliki kesempatan untuk berbuat lebih buruk, memilih untuk berhenti. Dalam perang, seseorang mungkin tidak selalu mampu menjadi pahlawan, tetapi ia masih dapat memilih untuk tidak menjadi pelaku.

Dan karena kami selamat, saya masih dapat mengingat suara Ibu.

“Kalau kami harus mati, saya akan mati di sini bersama anak-anak saya.”

Kalimat itu hidup lebih lama daripada perang yang melahirkannya.

Perang telah berlalu, tetapi kalimat seorang ibu itu tetap tinggal. Ia menjadi bagian dari ingatan keluarga kami. Dan mungkin, pada akhirnya, itulah salah satu wajah sejarah Timor Timur yang paling manusiawi: di tengah konflik yang memaksa orang memilih pihak, masih ada seorang ibu yang memilih anak-anaknya; masih ada orang yang memilih untuk tidak mengambil apa yang bukan miliknya; dan masih ada manusia yang, meskipun dikelilingi kekerasan, berusaha untuk tidak sepenuhnya kehilangan kemanusiaannya.

Sejarah seperti ini tidak boleh hilang. Kita belajar bahwa bahkan di tengah perang, manusia masih memiliki pilihan. Ada yang memilih kekerasan, ada yang memilih mengikuti arus, tetapi ada pula yang memilih keberanian, dan sedikit saja hati nurani.

Sering kali, pilihan-pilihan kecil itulah yang membuat seseorang tetap hidup untuk menceritakan sejarahnya.

Dan saya masih hidup untuk menceritakan hari ketika sebuah rumah dikepung, seorang ibu berdiri di pintunya, dan kematian akhirnya pergi tanpa membawa kami. 


Sumber

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama