Petroleum Fund Timor-Leste pada akhirnya dapat dilihat sebagai dana untuk membayar perjuangan generasi gerilyawan yang selama sekitar 24 tahun hidup dalam perang dan perjuangan. Mereka merasa telah kehilangan masa muda, kehidupan normal, kesempatan bekerja, harta benda, dan kehidupan keluarga. Setelah negara berada di tangan mereka dan kekayaan minyak tersedia, mereka merasa sudah waktunya menikmati hasil perjuangan itu. Mereka sudah berjuang selama 24 tahun, sekarang giliran negara membayar mereka.
Karena itu, bagi mereka, Petroleum Fund bukan terutama soal meninggalkan tabungan untuk anak cucu. Dana itu adalah hasil yang tersedia sekarang dan mereka merasa berhak menikmatinya. Selama masih ada uang, digunakan. Selama masih bisa ditarik, ditarik. Selama masih bisa membiayai negara, digunakan untuk membiayai negara. Kalau setiap tahun miliaran dolar keluar dari Petroleum Fund, itu bukan masalah selama generasi yang merasa telah berjuang masih dapat menikmati hasilnya.
Mereka sudah tua. Mereka tahu waktu mereka tidak panjang lagi. Maka persoalan yang mungkin muncul puluhan tahun kemudian tidak menjadi kepentingan mereka. Kalau Petroleum Fund habis ketika mereka sudah meninggal, itu bukan lagi urusan mereka. Mereka telah mendapatkan apa yang mereka anggap sebagai pembayaran atas 24 tahun perjuangan.
Anak cucu? Mereka belum berperang. Mereka tidak hidup di hutan. Mereka tidak mengalami penderitaan yang dialami generasi gerilyawan. Maka mengapa generasi sekarang harus menahan diri demi mereka? Dalam logika itu, generasi berikutnya harus mencari jalan sendiri. Kami sudah membayar perjuangan kami dengan hidup kami; sekarang kami berhak menikmati hasilnya.
Inilah yang membuat Petroleum Fund berbahaya jika diperlakukan sebagai rekening untuk membayar satu generasi. Setiap dolar yang diambil hari ini adalah dolar yang tidak lagi tersedia untuk masa depan. Setiap kali pokok dana digunakan untuk menutup kebutuhan negara, semakin kecil pula modal yang tersisa ketika minyak dan gas tidak lagi memberikan pemasukan.
Bayu-Undan sudah berhenti menjadi sumber pendapatan seperti masa lalu. Petroleum Fund akhirnya menjadi seperti sebuah tangki yang terus dikuras. Air yang keluar jauh lebih mudah dilihat daripada air yang masuk. Kalau pengeluaran terus besar sementara sumber pengisian kembali semakin kecil, tangki itu pada akhirnya akan menyusut.
Tetapi generasi yang mengambilnya hari ini mungkin tidak akan melihat saat tangki itu benar-benar kosong.
Mereka sudah menikmati hasilnya. Mereka sudah tua. Mereka sudah menjalani perjuangan. Kalau uang itu habis setelah mereka mati, persoalan selesai bagi mereka.
Yang harus menghadapi akibatnya adalah anak-anak dan cucu mereka.
Generasi berikutnya mungkin suatu hari bertanya: Ke mana Petroleum Fund yang dulu bernilai belasan miliar dolar? Ke mana uang minyak yang seharusnya menjadi modal masa depan? Mengapa ketika minyak sudah habis, tabungan negara juga semakin menipis?
Jawabannya sangat sederhana: telah dinikmati oleh generasi yang merasa paling berhak karena mereka telah berjuang selama 24 tahun.
Di sinilah letak ironi terbesar. Mereka dahulu mengatakan perjuangan dilakukan untuk masa depan bangsa. Tetapi ketika kekayaan negara tersedia, masa depan itu justru dapat dikorbankan untuk membayar generasi yang merasa telah berjasa pada masa lalu.
Mereka mendapatkan negara. Mereka mendapatkan kekuasaan. Mereka mendapatkan hak mengelola kekayaan alam. Dan mereka mendapatkan Petroleum Fund.
Maka selama mereka masih hidup, dana itu dinikmati.
Kalau dana itu habis setelah mereka mati, bukan lagi urusan mereka.
Tetapi sejarah tidak berhenti ketika satu generasi mati. Anak cucu tetap hidup. Mereka yang tidak pernah ikut perang tetap harus membangun negara yang ditinggalkan kepada mereka.
Dan pada saat itulah pertanyaan paling pahit akan muncul:
Apakah Petroleum Fund benar-benar warisan untuk seluruh rakyat dan generasi masa depan, atau hanya pembayaran terakhir bagi generasi yang merasa telah membeli negara itu dengan 24 tahun perjuangan?
Kalau Petroleum Fund akhirnya habis bersama generasi yang menikmatinya, maka yang diwariskan bukan lagi kekayaan.
Yang diwariskan hanyalah negara yang harus mencari uangnya sendiri setelah rekening warisannya dikosongkan.
-------------------------
Petroleum Fund tidak lagi dipandang sebagai modal untuk membangun masa depan negara, melainkan sebagai semacam “rekening pembayaran” atas pengorbanan generasi perjuangan. Selama mereka masih hidup, dana itu dianggap wajar digunakan untuk membiayai negara, menikmati fasilitas, membangun jaringan kekuasaan, dan mempertahankan standar kehidupan yang mereka anggap sebagai hak setelah puluhan tahun berjuang.
Konsekuensinya kemudian dipindahkan kepada orang lain. Generasi yang lahir setelah perang tidak pernah ikut menentukan perang, tidak pernah hidup di hutan sebagai gerilyawan, dan tidak pernah menerima keputusan politik generasi sebelumnya—tetapi merekalah yang kelak harus menghadapi ketika Petroleum Fund sudah habis.
Generasi pertama berkata, “Kami berjuang untuk masa depan.”
Generasi berikutnya mungkin suatu hari bertanya, “Kalau begitu, mengapa masa depan kami justru tidak disiapkan?”
