Bukan berasal dari Eropa atau Amerika, sosok sederhana dari negara tetangga Indonesia ini justru berhasil mencetak sejarah besar di jantung Gereja Katolik dunia, Vatikan. Namanya adalah Virgílio do Carmo da Silva, pria kelahiran Venilale, Baucau, Timor-Leste, yang kini dikenal sebagai salah satu tokoh penting Gereja Katolik dunia.
Perjalanan hidupnya dimulai dari sekolah menengah milik Serikat Santo Fransiskus de Sales (Salesian Don Bosco/SDB) di Fatumaca. Dari sana, panggilan hidup religius mulai tumbuh kuat dalam dirinya. Ia mengucapkan kaul pertamanya sebagai anggota Salesian pada tahun 1990, lalu melanjutkan pendidikan filsafat dan teologi di Filipina sebelum akhirnya ditahbiskan menjadi imam pada 8 Desember 1998.
Tidak berhenti sampai di situ, Virgílio juga mendalami spiritualitas di Universitas Kepausan Salesian di Roma. Dedikasi dan kepemimpinannya membuat ia dipercaya menjadi Superior Provinsi Salesian untuk wilayah Timor-Leste dan Indonesia pada tahun 2015.
Kariernya di Gereja terus menanjak ketika Paus Fransiskus menunjuknya sebagai Uskup Dili pada 30 Januari 2016. Momen ini menjadi titik penting dalam sejarah Gereja Katolik di Timor-Leste. Tiga tahun kemudian, tepatnya pada 11 September 2019, Paus Fransiskus meningkatkan status Dili menjadi Keuskupan Agung Metropolitan dan otomatis menjadikan Virgílio do Carmo da Silva sebagai Uskup Agung pertama dalam sejarah Timor-Leste.
Tak hanya dikenal sebagai pemimpin gereja, ia juga aktif membangun masa depan generasi muda. Dengan latar belakang sebagai pendidik, ia memberi perhatian besar pada pendidikan dan pembentukan karakter anak muda Timor-Leste. Bersama pemerintah, ia turut mendorong peningkatan akses pendidikan hingga akhirnya meresmikan universitas Katolik pertama di Timor-Leste pada tahun 2021.
Puncak sejarah itu datang pada 27 Agustus 2022. Paus Fransiskus resmi mengangkat Virgílio do Carmo da Silva sebagai Kardinal Imam bergelar Sant’Alberto Magno. Pengangkatan tersebut menjadikannya kardinal pertama dari Timor-Leste sejak agama Katolik masuk ke wilayah itu sekitar 500 tahun lalu. Pada usia 54 tahun, ia juga tercatat sebagai salah satu kardinal termuda di dunia.
Kardinal Virgílio dikenal aktif menyuarakan perdamaian, toleransi, dan stabilitas politik di negaranya. Ia juga mendukung pengembangan pariwisata religi yang inklusif serta menegaskan bahwa nilai-nilai Katolik berperan penting dalam proses rekonsiliasi Timor-Leste dan Indonesia pasca-kemerdekaan.
Namanya kini tercatat sebagai salah satu tokoh penting dalam Gereja universal. Bahkan, ia ikut menggunakan hak pilihnya dalam Konklaf Kepausan 2025 yang memilih Paus Leo XIV sebagai pemimpin baru Gereja Katolik dunia.
