Nama Eurico Barros Gomes Guterres adalah salah satu nama paling kontroversial dalam sejarah akhir Timor Timur. Bagi sebagian orang, ia adalah simbol loyalitas pada Merah Putih. Bagi yang lain, ia adalah wajah gelap kekerasan pascareferendum 1999. Satu hal yang pasti: Eurico bukan figur biasa—ia adalah produk dari zaman yang panas, brutal, dan penuh tarik-menarik kepentingan politik.
Merah Putih di Tangan, Api di Belakang
Hari itu di Cipinang, Eurico keluar dari penjara bukan sebagai pria yang menunduk. Rambut gondrong, brewok tebal, tubuh kekar—ia mengibarkan dan mencium Merah Putih di depan kamera. Seolah ingin menegaskan satu pesan: ia tak pernah menyesal berada di barisan pro-integrasi.
Eurico lahir di Viqueque, Timor Timur, wilayah yang sejak lama menjadi ladang konflik identitas dan loyalitas. Sejak muda, ia sudah tenggelam dalam pusaran politik integrasi. Dalam narasi pro-NKRI, Eurico dikenal sebagai “pejuang integrasi”. Dalam catatan HAM internasional, namanya tercantum sebagai aktor utama kekerasan.
Dua dunia itu bertabrakan di satu sosok.
Dari Gada Paksi ke Aitarak
Jauh sebelum referendum 1999, Eurico sudah aktif dalam jaringan organisasi pro-integrasi. Ia dikenal sebagai bagian dari Gada Paksi (Garda Muda Penegak Integrasi)—sebuah kelompok pemuda yang pada pertengahan 1990-an disebut-sebut mendapat pelatihan dan dukungan dari unsur militer Indonesia, khususnya Kopassus.
Dari sinilah lahir jaringan milisi sipil bersenjata yang kelak memainkan peran besar. Di Dili, Eurico memimpin milisi Aitarak, salah satu kelompok paling ditakuti. Aitarak bukan sekadar organisasi—ia adalah simbol teror bagi kelompok pro-kemerdekaan, tapi juga dianggap benteng terakhir NKRI oleh pendukung integrasi.
Ketika berbagai milisi disatukan dalam Pasukan Pejuang Integrasi, Eurico naik sebagai wakil panglima, mendampingi João Tavares, dengan struktur komando yang rapi dan jelas. Mereka bukan gerombolan liar. Mereka terorganisir, bersenjata, dan punya jaringan politik.
Referendum: Saat Sejarah Meledak
Tahun 1999 adalah titik didih. Pemerintah Indonesia, lewat Presiden B.J. Habibie, memberi dua opsi: otonomi khusus atau merdeka. Sejak awal, aparat keamanan sudah memprediksi kekacauan. Bahkan Jenderal Wiranto mengakui kerusuhan hampir tak terhindarkan.
Di lapangan, negara seperti kehilangan kendali.
Milisi pro-integrasi dan kelompok pro-kemerdekaan saling berhadapan. Polisi lumpuh. Pelucutan senjata setengah hati. Senjata yang seharusnya dikumpulkan justru tetap beredar. Ketika hasil jajak pendapat diumumkan—78,5 persen memilih merdeka—api pun menyala.
Dili dibakar. Maliana hancur. Gereja Suai berdarah. Rumah Uskup Belo diserang. Dunia internasional menyaksikan Timor Timur terbakar dari layar televisi.
Dan nama Eurico ada di mana-mana.
Pengadilan, Vonis, dan Celah Hukum
Eurico dituduh sebagai provokator dalam penyerangan rumah Manuel Carrascalão pada 17 April 1999 yang menewaskan belasan orang. Ia divonis 10 tahun penjara pada 2002. Vonis itu dikuatkan hingga kasasi. Namun drama belum selesai.
Pada 2008, Mahkamah Agung mengabulkan peninjauan kembali. Novum ditemukan. Eurico dibebaskan. Kalimatnya setelah bebas terdengar dingin dan tegas: “Orang yang sudah diadili tidak bisa diadili dua kali.” Ia menolak hukum internasional. Ia mengakui hukum Indonesia—dan merasa telah menunaikannya.
Dengan bebasnya Eurico, satu per satu terdakwa pelanggaran HAM Timor Timur juga lepas. Negara seperti menutup buku, meski halaman-halamannya masih berlumur darah.
Antara Loyalitas dan Luka Sejarah
Eurico Guterres adalah potret keras dari konflik Timor Timur: ketika nasionalisme, militerisme, dan politik identitas bercampur tanpa rem. Ia bukan sekadar individu, tapi representasi sistem—di mana milisi sipil dijadikan alat, dan kekerasan dilegalkan oleh situasi.
Bagi pendukungnya, Eurico adalah simbol keberanian mempertahankan NKRI. Bagi korban, ia adalah luka yang tak sembuh. Sejarah Timor Timur tak bisa dibaca hitam-putih. Tapi satu pelajaran jelas: ketika negara bermain api lewat milisi dan loyalitas buta, yang terbakar bukan hanya wilayah—melainkan kemanusiaan itu sendiri.
Dan Eurico Guterres akan selalu dikenang sebagai salah satu wajah paling keras dari bab paling gelap itu.
