Filosofi Kintsugi dari Jepang mengajarkan bahwa retakan tidak perlu disembunyikan, melainkan dirawat dan disatukan kembali dengan emas. Retakan itu tetap terlihat, tetapi justru menjadi bagian paling berharga dari keseluruhan. Dalam kehidupan pribadi, makna ini menyentuh hati yang terluka. Namun dalam konteks perang saudara, maknanya menjadi jauh lebih dalam dan menyakitkan.
Bayangkan sebuah keluarga yang kehilangan anaknya karena dibunuh dalam konflik. Luka seperti itu bukan sekadar retakan kecil, melainkan kehancuran yang mengguncang seluruh hidup. Rasa marah, duka, dan keinginan membalas dendam adalah reaksi yang sangat manusiawi. Dalam situasi seperti itu, memaafkan tampak hampir mustahil.
Namun di sinilah filosofi Kintsugi berbicara dengan lembut tetapi kuat. Retakan akibat kekerasan tidak bisa dihapus. Anak yang telah tiada tidak akan kembali. Tetapi keluarga yang memilih untuk memaafkan pelakunya sedang melakukan sesuatu yang sangat radikal: mereka tidak membiarkan retakan itu berubah menjadi lingkaran kebencian yang tak berujung. Mereka memilih untuk menyatukan kembali hidup mereka dengan “emas” berupa pengampunan.
Pengampunan bukan berarti melupakan atau membenarkan kejahatan. Ia tidak menghapus keadilan. Seperti dalam Kintsugi, retakan tetap terlihat jelas. Justru karena terlihat, semua orang diingatkan akan luka yang pernah terjadi. Namun emas pengampunan membuat luka itu tidak lagi menjadi sumber kehancuran, melainkan menjadi tanda keberanian moral.
Dalam perang saudara, kebencian sering diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Satu kematian dibalas dengan kematian lain, dan lingkaran itu terus berputar. Ketika seorang ayah atau ibu yang kehilangan anaknya memilih memaafkan, ia sedang memutus rantai itu. Ia berkata bahwa penderitaan tidak akan menjadi warisan bagi masa depan.
Kintsugi mengajarkan bahwa sesuatu yang pernah hancur tidak harus berakhir dalam kehancuran. Ia bisa menjadi lebih kuat, bukan karena retakannya hilang, tetapi karena ada emas yang menyatukannya. Dalam konteks konflik, emas itu adalah keberanian untuk memaafkan, membangun kembali, dan menolak menjadikan luka sebagai alasan untuk terus melukai.
Pengampunan dalam situasi seperti itu bukan tanda kelemahan. Ia adalah bentuk kekuatan tertinggi—kekuatan untuk memilih kemanusiaan di tengah kegelapan. Seperti keramik yang pecah lalu disatukan kembali, masyarakat yang pernah terbelah oleh perang hanya bisa utuh kembali jika berani mengakui retakan dan menyatukannya dengan emas kebijaksanaan dan belas kasih.
