Saya kerap bertanya pada diri sendiri: dari mana seharusnya saya memulai untuk menggambarkan sosok paman saya tercinta, Domingos Kolly. Ia bukan sekadar seorang manusia, melainkan sebuah kisah tentang kesetiaan, keberanian berpikir, dan cinta yang tulus kepada Bumi Loro Sa’e—tanah yang begitu mendarah daging dalam jiwanya.
Domingos adalah seorang Timoris sejati. Kecintaannya pada tanah kelahiran tidak pernah pudar, bahkan ketika ia menuntut ilmu jauh di Portugal. Di negeri orang, kerinduannya menjelma puisi. Dengan nama pena KOLLY, ia menulis bait-bait cinta untuk tanah airnya—puisi yang lahir dari kegelisahan, harapan, dan keyakinan akan martabat bangsanya.
Ia lahir dari keluarga besar FRETILIN, namun memilih jalan yang berbeda: APODETI. Ia satu-satunya dalam keluarga yang menempuh pilihan itu. Karena perbedaan itulah, ia kerap dicurigai, bahkan dicap sebagai “FRETILIN dalam tubuh APODETI” oleh mereka yang tak mampu memahami kedalaman nuraninya. Namun ia tidak pernah menyangkal asal-usulnya. Di hadapan publik, dengan tenang dan jujur, ia pernah berkata:
“Saya APODETI, keluarga saya FRETILIN, dan saya bangga kepada mereka.”
Perbedaan haluan politik tak pernah membuatnya kehilangan jiwa Timorisnya. Ia tetap saudara, tetap anak tanah ini. Bahkan ketika duka menimpanya—saat ia diteriaki oleh saudara sendiri ketika hendak melayat kematian Herman, keponakannya—ia memilih diam dan menanggung luka itu sendirian. Ia dituduh bertanggung jawab, padahal sebagai seorang bupati, ia tidak pernah memiliki kendali atas militer. Tuduhan itu tidak ia balas dengan amarah, melainkan dengan keteguhan.
Dalam dunia pemikiran, Domingos adalah seorang pembebas. Saat mengubah dan memaknai ulang lagu “Imi Mak Malae”, dan ketika kuliah di Universitas Airlangga, ia kerap menjelaskan bagaimana kolonialisme bukan hanya soal penjajahan fisik, melainkan juga penaklukan kesadaran. Baginya, ketertundukan permanen—rakyat yang tunduk tanpa sadar—adalah belenggu paling berbahaya. Itulah belenggu yang ingin ia lepaskan dari hati rakyat Timor Timur.
Ketika menjabat sebagai Wali Kota Dili, ia bukan hanya administrator, tetapi visioner. Dialah yang untuk pertama kalinya memperkenalkan program DILI BERTAIS—Bersih, Tertib, Aman, Indah, dan Sehat. Sebuah ikhtiar agar Dili tampil elok, bermartabat, dan manusiawi. Ia juga menghidupkan kembali pacuan kuda tradisional, memberi ruang bagi masyarakat kota untuk menyalurkan bakat dan menjaga denyut budaya lokal. Atas kerja dan dedikasinya, penghargaan dari pemerintah pusat pun ia terima—sebuah pengakuan atas keberhasilannya menata wajah Dili.
Ketika Presiden Habibie mengeluarkan opsi jajak pendapat tentang otonomi khusus, Domingos menaruh harapan besar di sana. Ia percaya bahwa otonomi dapat menjadi jalan menuju apa yang ia sebut sebagai “kemerdekaan plus”—sebuah kemandirian bermartabat, seperti Hong Kong: daerah mengelola dirinya sendiri, sementara pemerintah pusat hanya memegang tiga urusan utama—pertahanan, moneter, dan hubungan luar negeri.
Namun sejarah berkata lain. Negara, menurut keyakinannya, tidak menepati janji itu. Timor Timur dilepas tanpa upaya mempertahankan. Mereka yang percaya pada janji otonomi dibiarkan berjuang sendiri. Dari situlah kekecewaannya bermula—bukan kepada rakyat, melainkan kepada sikap negara.
Selepas jajak pendapat, ia ditawari berbagai posisi terhormat: Duta Besar di Portugal, pekerjaan strategis di Bappenas. Semua ia tolak. Kekecewaan telah mengubah orientasinya. Ia memilih jalan sunyi: menulis, merekam kegelisahan zaman, dan berdamai dengan pikirannya sendiri.
Pada 24 Januari 2026, Domingos Kolly menghembuskan napas terakhirnya. Tanggal itu bukan tanggal biasa. Ia wafat bertepatan dengan tanggal wafat Arnaldo dos Reis Araujo, 24 Januari 1988—seorang tokoh integrasi, seorang saksi dan pelaku sejarah Timor Timur. Seolah sejarah sengaja menutup lingkarannya sendiri: dua anak zaman, dua jalur berbeda, berpulang pada tanggal yang sama.
Bukan kebetulan, melainkan isyarat.
Isyarat bahwa mereka yang setia pada tanah ini—meski disalahpahami, meski disingkirkan—akhirnya dipanggil pulang oleh sejarah itu sendiri.
Jenazahnya disambut penghormatan terakhir dari para sahabat seperjuangan: Letnan Jenderal (Purn) Kiki Syahnakri, Letnan Jenderal (Purn) Tono Suratman, Letnan Jenderal (Purn) Zack Anwar Makarim. Mereka yang tak sempat hadir pun mengirimkan doa dan bunga: Mayor Jenderal (Purn) Mahidin Simbolon dan Jenderal (Purn) Wiranto.
Selamat jalan, Domingos Kolly. Engkau telah setia pada nurani, meski jalan itu sepi.
Semoga engkau berkumpul kembali dengan para leluhur,
bersama Arnaldo dos Reis Araujo, di keabadian yang tidak lagi mengenal fitnah, tidak mengenal pengkhianatan, hanya kebenaran dan cinta pada tanah asal. Sejarah mungkin belum adil padamu.
Namun keabadian tahu: engkau tidak pernah salah mencintai Timor.
