TRAGEDI GUNUNG ODOMAU DAN GUGURNYA SANG ‘ANAK EMAS’ KAPTEN NICO TUMATAR



_Ketika Seorang Komando Memilih Mati di Garis Depan Demi Anak Buahnya_

*AKHIR 1970-AN* — Sejarah militer Indonesia mencatat banyak palagan berdarah. Tapi ada satu pertempuran yang hingga hari ini masih meninggalkan luka mendalam: pertempuran di kaki Gunung Odomau, dekat perbatasan Maliana.

Di sanalah seorang perwira muda bernama Kapten Nico Tumatar gugur. Bukan karena mundur. Tapi karena ia menolak meninggalkan anak buahnya saat penyergapan mematikan hampir menyapu bersih satu unit.

*MISI DI TANAH LOROSAE*
Kapten Nico Tumatar bukan sekadar tentara biasa. Di kalangan korps baret merah dan rekan sejawatnya, ia dikenal sebagai sosok perwira berprestasi.

Lulusan Akademi Militer Akmil tahun 1970 ini punya rekam jejak cemerlang. Dalam desas-desus di barak, ia bahkan sering disebut sebagai salah satu "anak emas" di lingkungan kepresidenan era itu. Alasannya sederhana: integritas dan kecakapan taktisnya di lapangan di atas rata-rata.

Tapi status itu tidak membuatnya memilih zona aman. Saat Operasi Seroja meletus untuk merespons ketidakstabilan politik di Timor Timur, Nico maju ke garis depan.

Bersama unitnya, ia ditugaskan mengamankan wilayah-wilayah rawan yang dikuasai gerilya Fretilin. Medan hutan dan pegunungan yang jadi benteng alami lawan.

*PERTEMPURAN DI GUNUNG ODOMAU*
Sore itu suasana di kaki Gunung Odomau mencekam. Nico memimpin pasukannya menyisir medan sulit di wilayah Maliana.

Tanpa diduga, unitnya masuk ke dalam zona jebakan yang sudah disiapkan matang oleh pasukan lawan.

Tembakan membabi buta dari arah perbukitan menghujani pasukan Indonesia. Posisi terjepit. Medan tidak menguntungkan. Pertempuran jarak dekat tak bisa dielakkan.

Di titik kritis itulah watak seorang komando diuji. Nico Tumatar menolak mundur. Ia terus berdiri paling depan, memberi komando, memberi perlindungan bagi anak buahnya.

Sayangnya, dalam baku tembak sengit tersebut, sang Kapten terkena peluru tajam.

Kabarnya, peristiwa berdarah di Gunung Odomau itu sangat brutal. Hanya sedikit prajurit yang berhasil selamat dari maut. Salah satunya adalah seorang perwira muda yang kelak menjadi tokoh besar nasional: Prabowo Subianto.

*PENGHORMATAN ABADI BAGI SANG PAHLAWAN*
Gugurnya Nico Tumatar menjadi duka mendalam bagi TNI dan keluarga besar Kopassus. Atas keberanian luar biasa yang ia tunjukkan, ia dianugerahi kenaikan pangkat anumerta.

Meskipun kini Timor Timur telah berdaulat sebagai Timor Leste, pengorbanan para prajurit seperti Nico Tumatar tetap dikenang.

Namanya menjadi bagian dari fragmen sejarah militer Indonesia yang penuh dengan heroisme dan air mata. Kisah tentang seorang "anak emas" yang memilih mati di tanah orang, demi menjaga sumpah prajurit dan melindungi anak buahnya.

Gunung Odomau hari ini mungkin sudah sunyi. Tapi di setiap batu dan tanahnya, masih tersimpan cerita tentang sore itu. Cerita tentang seorang kapten yang tidak berteriak "maju", tapi berteriak "ikuti saya".

Dan ia membuktikannya, sampai napas terakhir.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama