Saya, João Zacarias Freitas Soares, merasa perlu menyampaikan pandangan dan kritik saya secara terbuka terhadap pernyataan yang dikaitkan dengan Saudara Arif Sagran, yang menyebut bahwa “Timor-Leste tiba-tiba merdeka.”
Bagi saya, pernyataan seperti ini bukan persoalan kecil. Ini menyentuh sejarah, pengorbanan, penderitaan, dan martabat sebuah bangsa.
Saya ingin bertanya secara terbuka:
Apa yang dimaksud dengan “tiba-tiba merdeka”?
Timor-Leste tidak bangun pada suatu pagi lalu tiba-tiba menjadi negara merdeka.
Kemerdekaan yang kita nikmati hari ini melewati perjalanan yang panjang dan sangat berat. Ada pejuang yang gugur di medan perang. Ada rakyat yang kehilangan keluarga. Ada yang ditangkap. Ada yang dipenjara. Ada yang mengalami penyiksaan. Ada yang hidup bertahun-tahun di pegunungan. Ada pula mereka yang bergerak secara klandestin dengan mempertaruhkan keselamatan dan nyawanya sendiri.
Perjuangan itu berlangsung melalui Frente Armada, Frente Clandestina, dan Frente Diplomática.
Karena itu, menurut pandangan saya, mengatakan bahwa Timor-Leste “tiba-tiba merdeka” adalah cara pandang yang sangat menyederhanakan sejarah perjuangan bangsa ini.
Saya tidak sedang berbicara atas kepentingan partai politik tertentu. Saya juga tidak sedang membela satu kelompok dan menyerang kelompok lainnya.
Saya berbicara sebagai seorang Timor oan yang menghormati sejarah bangsanya sendiri.
Para pahlawan dan martir berasal dari berbagai tempat, keluarga, kelompok dan latar belakang. Mereka boleh memiliki jalan perjuangan yang berbeda, tetapi pengorbanan mereka menjadi bagian dari sejarah yang sama, yaitu perjuangan untuk menentukan nasib bangsa Timor-Leste.
Kita yang hidup hari ini menikmati sesuatu yang sebagian dari mereka tidak sempat nikmati.
Kemerdekaan.
Maka bagi saya, kita mempunyai tanggung jawab moral untuk berbicara tentang sejarah dengan hati-hati.
Saudara Arif Sagran berhak mempunyai pendapat. Demokrasi menjamin kebebasan untuk berbicara. Tetapi kebebasan berbicara tidak berarti kita boleh mengabaikan fakta sejarah atau menggunakan kata-kata yang dapat melukai ingatan kolektif masyarakat.
Apalagi jika sebuah pernyataan telah menimbulkan keresahan dan perdebatan di tengah masyarakat.
Karena itu, saya meminta dengan tegas agar Saudara Arif Sagran memberikan klarifikasi secara terbuka kepada publik.
Jika pernyataan tersebut dipotong atau disalahartikan, jelaskan konteks sebenarnya.
Tetapi jika memang maksudnya adalah bahwa Timor-Leste memperoleh kemerdekaan secara tiba-tiba tanpa proses perjuangan panjang, maka saya menolak keras pandangan tersebut.
Sejarah tidak boleh dihapus hanya karena satu kalimat.
Darah para pejuang tidak boleh dilupakan.
Air mata keluarga korban tidak boleh dianggap tidak pernah ada.
Penderitaan mereka yang dipenjara dan disiksa tidak boleh dikecilkan.
Perjuangan rakyat di dalam negeri dan diplomasi di luar negeri tidak boleh dihilangkan dari ingatan generasi sekarang.
Saya juga mengajak masyarakat Timor-Leste untuk menanggapi persoalan ini secara kritis tetapi tetap bermartabat. Jangan membalas sebuah pernyataan dengan kebencian, penghinaan, atau kekerasan. Lawan argumentasi dengan sejarah, fakta, dan akal sehat.
Bagi saya, kritik ini bukan persoalan pribadi terhadap Arif Sagran.
Ini persoalan penghormatan terhadap sejarah nasional.
Kita boleh berbeda pandangan mengenai politik.
Kita boleh berbeda partai.
Kita boleh berbeda pendapat mengenai siapa yang paling berjasa.
Tetapi ada satu hal yang seharusnya menyatukan kita:
Timor-Leste tidak tiba-tiba merdeka.
Kemerdekaan ini memiliki sejarah.
Kemerdekaan ini memiliki proses.
Kemerdekaan ini memiliki luka.
Kemerdekaan ini memiliki pahlawan.
Dan kemerdekaan ini memiliki para martir yang telah membayar harga tertinggi agar generasi kita dapat berdiri hari ini sebagai warga sebuah negara yang merdeka dan berdaulat.
Jangan pernah mengecilkan pengorbanan mereka.
Respeita História!
Respeita Rezisténsia!
Respeita Herói no Mártires!
Respeita Povu Timor-Leste!
Tags:
Timor Leste
