Bella Galhos (lahir tahun 1972) merupakan seorang aktivis terkemuka asal Timor-Leste yang dikenal luas atas kontribusi besarnya dalam gerakan bawah tanah demi memperjuangkan hak menentukan nasib sendiri selama masa pendudukan Indonesia (1975–1999). Setelah Timor-Leste meraih kemerdekaannya pada tahun 2002, ia terus melanjutkan dedikasinya dengan berkarier sebagai penerjemah, penasihat presiden, aktivis hak asasi manusia, serta pegiat lingkungan hidup. Berkat rekam jejaknya yang kuat dalam mempromosikan kesetaraan gender, pendidikan perdamaian, dan keberlanjutan ekologis, ia diakui sebagai salah satu figur perempuan paling berpengaruh dalam pembangunan sosial dan politik Timor-Leste modern.
Bella Galhos tumbuh dalam latar belakang keluarga yang sangat tidak biasa, di mana ayahnya dilaporkan memiliki 45 anak dari 18 perempuan yang berbeda. Mengikuti peristiwa invasi angkatan bersenjata Indonesia pada tahun 1975, ayah serta saudara-saudara Galhos ditangkap, hingga akhirnya sang ayah menjual Galhos yang baru berusia tiga tahun kepada seorang tentara seharga lima dolar dengan dalih ia memiliki kepribadian yang sangat maskulin dan dominan. Meskipun setelah perjuangan panjang dari ibunya ia berhasil dikembalikan ke keluarga, Galhos kemudian melaporkan bahwa dirinya sempat mengalami kekerasan seksual, baik dari anggota keluarganya sendiri maupun dari pihak otoritas Indonesia.
Memasuki usia 16 tahun, Bella Galhos memutuskan untuk bergabung dengan gerakan kemerdekaan Timor melalui "front bawah tanah" yang digerakkan oleh para aktivis muda. Pada tahun 1991, beberapa teman dekat Galhos gugur dalam peristiwa pembantaian Santa Cruz, sebuah tragedi yang diorganisir oleh pamannya sendiri yang bernama Constâncio Pinto. Dampak dari situasi tersebut memaksa Galhos untuk hidup selama tiga tahun menggunakan identitas yang berbeda, di mana ia bertindak sebagai seorang agen ganda yang seolah-olah bekerja mendukung otoritas Indonesia.
Titik balik kehidupannya terjadi pada tahun 1994 ketika Bella Galhos terpilih sebagai salah satu peserta program pertukaran pemuda ke Kanada yang diselenggarakan oleh organisasi Canada World Youth. Setibanya di negara tujuan, ia langsung memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengajukan suaka politik dan berhasil menerima status sebagai pengungsi di Kanada. Di kemudian hari, setelah wilayah Timor Timur berhasil meraih kemerdekaan penuh, Galhos memilih untuk melanjutkan studi akademisnya dengan mendalami bidang psikologi di Universitas Hawaii.
Selama menetap di Kanada, Bella Galhos gencar melakukan kampanye hak asasi manusia bersama East Timor Alert Network serta menjadi salah satu dari dua perwakilan Kanada di National Council of Maubere Resistance untuk melakukan lobi internasional. Keberaniannya sempat memicu ketegangan diplomatik pada Januari 1996, ketika Duta Besar Indonesia untuk Kanada, Benjamin Parwoto, mendatangi ibu Galhos untuk membungkam putrinya, tindakan yang akhirnya memicu kemarahan publik dan berujung pada teguran keras dari Departemen Urusan Luar Negeri Kanada kepada sang duta besar. Atas segala kontribusi luar biasanya di bidang pendidikan, kemanusiaan, dan hak asasi manusia, Bella Galhos resmi dinobatkan sebagai salah satu dari 100 perempuan pilihan versi BBC pada tahun 2023.
