Disekolah, film Pesta Babi ditonton dan dijadikan bahan ajar. Film ini melukai hati kita tetang Papua, sekaligus bisa membenci Indonesia. Ya, bolehlah benci rezim yang berkuasa, tapi jangan benci Indonesia.
Saya meyakini, film ini tidak berdiri sendiri macam filmnya Max Stahl, Balibo, dan sejenisnya pada kasus Timtim. Ada semacam kelompok yang menyokongnya. Semua sepakat, para perusak lingkungan dan pelaku kejahatan lainnya harus dihukum, tapi jangan salah, tidak semua ingin Indonesia pecah.
Genderang Balkanisasi Indonesia akan selalu "cek ombak" dikala NKRI sedang krisis ekonomi dan politik. Film ini, bisa jadi mengarah kesana. Semua bisa bersayap termasuk film. Film bisa menjadi ajang kritik rezim sekaligus propaganda melawan dan merontokkan negara.
Timtim Files bersikap bahwa para perusak lingkungan, koruptor, dan pelaku kejahan terhadap Papua dan wilayah lainnya, wajib ditindak. Penjarakan!. Untuk membenci Indonesia apalagi kemudian sepakat dengan sparatisme, stop, nanti dulu ya!. Berkacalah dengan kasus Timtim: jasmerah!.
Kita beruntung punya tentara yang terdepan menjaga kedaulatan negara, tanpa institusi ini, pasti sudah lama Indonesia bubar. Dengan kekayaan yang berlimpah ruah dan luas negara sebesar Eropa yg hanya dipimpin oleh seorang presiden, sudah pasti orang jahat nan rakus menunggu Indonesia pecah berkeping-keping. Mereka akan berpesta, tp bukan macam pesta babi yang menjadi PR negara. Negara harus bertindak, untuk urusan ancaman dari luar negeri, tentaralah yang ambil peranan.
Tapi, jangan masuk ke ranah sipil ya, jangan seperti dulu ya...hehehehe..
