Kisah dramatis lulusan IPDN kelahiran Timtim, Ortu pilih Timles & Anak gabung NKRI


Namanya Vicentius Samadi. Dia ternyata lulusan IPDN asal Timor-Timur atau sekarang setelah merdeka bernama Timor Leste. Vincentius bercerita, ketika ia menjalani tes masuk IPDN, jadwal referendum sudah dekat. Itu tahun 1999. Tes pun telah ia jalani, tinggal menunggu waktu pengumuman.

"Jadi waktu kami tes, itu sudah ada jadwal referendum 1999. Sudah selesai tes semuanya tinggal tunggu pengumuman," katanya.

Belum juga hasil pengumuman diterima, pecahlah konflik di Timor Timur. Perang saudara tak terhindarkan. Yang pro integrasi berhadapan dengan yang pro kemerdekaan.

"Kami belum sempat dengar pengumuman siapa yang lolos," kata Vicentius.

Karena situasi sudah tak terkendali, ia dan keluarganya pun memutuskan mengungsi. Namun ada juga kawannya yang tetap bertahan di Timor Timur. Tapi kemudian, ia mendapat informasi, bahwa ada kebijakan dari pemerintah pusat untuk angkatan terakhir, biaya seluruhnya akan ditanggung negara. Dan, kepada mahasiswa IPDN asal Timor Timur yang sudah terlanjur masuk dan belajar di kampus birokrat tersebut, pemerintah juga memberikan pilihan, tetap bergabung dengan NKRI atau memilih menjadi bagian dari Timor Leste.

"Nah senior kami yang sudah masuk, itu ada yang bertahan tapi ada juga yang kembali. Ada sebagian kembali ke Timor Timur, tapi ada yang bertahan juga," katanya.

Vicentius melanjutkan kisahnya. Selama di pengungsian, ia terus pantau informasi. Ia mendengar, bahwa jatah kontingen Timor Timur di IPDN belum hangus. Setelah memastikan itu, ia pun memutuskan berangkat ke Jatinangor, Sumedang.

"Dari 35 orang yang daftar, hanya 21 orang yang pergi ke STPDN (nama sekolah pamong sebelum dirubah jadi IPDN-red). Yang lain pro kemerdekaan. Ada satu cewek sudah masuk tapi pulang kembali, dia pro kemerdekaan," tuturnya.

Dari Nusa Tenggara Timur, ia berangkat ke Jatinangor. Tapi kata Vicentius, ada juga yang berangkat dari Sulawesi, karena waktu itu pengungsi asal Timor-Timur tercerai berai. Di Jatinangor, ia bertemu calon praja sesama Timor-Timur.

"Namanya, Salvador da Silva Gomes. Di ke Jatinangor dari tempat pengungsian. Keeberadaan orang tuanya tak diketahui," ujarnya.

Waktu itu alat komunikasi sangat susah. Belum ada telepon genggam seperti sekarang ini. Ternyata setelah sekian lama belajar di IPDN, orang tua Salvador lebih memilih bergabung dengan Timor Leste, nama baru Timor-Timur setelah merdeka pasca referendum. Salvador sendiri memutuskan tetap bergabung dengan NKRI. Dia memilih jadi abdi republik. Salvador kini jadi birokrat di Kota Depok, Jawa Barat.

"Orang tuanya kembali ke Timor-Timur. Orang tuanya pro kemerdekaan. Salvador sendiri tetap di IPDN. Sekarang setelah hubungan Indonesia dan Timor Leste membaik, Salvador kalau mau ketemu dengan orang tuanya di Timor Leste mesti pake pasport," kata Vicentius, sambil tertawa kecil.

Vicentius masih ingat, selama ia jadi pengungsi, situasi mencekam. Bunyi tembakan sudah jadi menu sehari-hari. Kata dia, jika ingat itu, betapa butuh perjuangan sampai ia di terima di IPDN. Untungnya, ia dapat juga pergi ke Jatinangor, hingga kemudian menamatkan studinya di sekolah kedinasan tersebut.


Sumber

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama