Timtim Go
Internasional
Pasca peristiwa Santa Cruz yang merenggut nyawa demonstran
disertai hiruk pikuk pemutaran video Max Stal di stasiun televisi Eropa,
membuat kasus Timor Timur (Timtim) “Go Internasional”. Menyadari hal ini,
gerakan pemuda dan mahasiswa Timtim juga harus keluar dari Indonesia “lompati
pagar integrasi”. Bukan soal gerakan mereka mengalami kendala didalam, namun
diluar negeri diyakini kuat akan mendapat pijakan yang lebih menjanjikan.
Runtuhnya tembok Berlin serta bubarnya Uni Soviet menjadi monument
simbolik munculnya hembusan kencang demokratisasi dan isu HAM di Eropa. Hak-hak
untuk kemanusiaan, penentuan nasib, dan lepas dari keras-nya militer Indonesia mendapat
dukungan kuat di Eropa.
Orang Timor harus keluar untuk memastikan pijakan dan
dukungan itu mengalir sesuai arahnya. Kini harus lebih menarik perhatian dunia
sekaligus memukul rezim Orba. Moment Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) APEC,
November 1994 di Jakarta adalah target serta solusi-nya.
Next: Kemenangan Besar
Dengan keberanian dan ke-ngeri-an yang harus ditanggung jika
dibekuk oleh ABRI, sebanyak 29 pemuda
dan mahasiswa Timtim menerobos masuk ke wilayah independen sekutu
Indonesia terkuat, yaitu Kedubes Amerika Serikat (AS) di Jakarta. Tak
tanggung-tanggung, mereka bertahan selama 12 hari saat berlangsungnya KTT APEC tersebut. Aksi yang
bisa dibilang: Gila!.
Dubes dan Presiden adalah “Muka Negara” terdepan diluar negari.
Amerika Serikat pada kondisi itu di Jakarta tahun 1994, memantik media terkuat
mereka kala itu, CNN, yang kemudian menyorotinya dengan serius. Bagaimana tidak,
selama 5 hari berturut-turut, aksi menduduki dubes AS oleh pemuda dan mahasiswa
Timtim menjadi berita viral. Tak ayal, selama 5 hari berturut- turut CNN mengambil
gambar dan aksi mereka didalam Kedubes menjadi "BREAKING NEWS" setiap
30 menit sekali.
Sontak, dengan jaringan CNN yang boleh dibilang sebagai
stasiun televisi terbesar didunia yang beritanya menjadi salah satu rujukan
internasional, masalah Timtim menyebar semakin luas dan segera mendapat
dukungan global. Dunia saat itu meyakini bahwa “ada sesuatu yang tidak beres di
Timtim, propinsi terbaru Indonesia”. Selanjutnya, ini mendapat penguatan saat
diketahui bahwa Presidennya ialah seorang tokoh yang memerintah sudah lebih
dari 20 tahun tak tergantikan tak terdandingi kental dengan nuansa militer yang
kokoh.
Diantara mereka yang akhirnya “lolos ke luar negeri”
mendapat suaka politik atau keluar Indonesia sebagai individu pengasingan, adalah
Luciano "Timor Maubere" yang dimasa RDTL ini pernah menjadi wakil
negaranya di negara sekutu terbaik ditahun 1999, yaitu Australia. Ketika itu,
tahun 1994, berusia 22 tahun yang merupakan bagian dari 29 dan saat sudah di
pengasingan Republik Irlandia. Keberadaannya tak lepas dari sponsor kelompok
HAM dan media Amerika.
Dukungan ini menegaskan bahwa Perang Dingin sudah usai dan
orientasi utamanya mengarah kepada masalah kemanuasiaan dan hak-hak politik. Luciano
kemudian berkampanye tentang hak-hak rakyat Timtim guna menentukan nasib
sendiri. Foto diatas adalah contohnya. Luciano mengakui bahwa: “foto itu saya
peroleh dari salah satu Universitas di Amerika Serikat ketika saya Speaking
Tour di sana tahun 1996”.
Kini: ke dalam
Walaupun masih sangar dan gahar dalam berergumen tertulis di
media sosial Facebook, khususnya soal perlawanannya dengan Indonesia, Luciano
masih terasa ramah dengan manusia negara tetangganya, yaitu akun-akun
Indonesia. Dia kini lebih melihat ke dalam untuk membangun negara bangsa Timor
Leste yang selama masa mudanya diperjuangkan dengan keras.
Sumber
Obrol-obrol via WA dan Tlp mesenjer FB dengan Luciano akun
FB “Timor Maubere”
