Misi Intelejen Koes Plus dan Kisah Pilu Personil Os 5 do Oriente: akankah Mereka 1 Panggung Kembali??


Sebuah band pertama dari Indonesia yang menggelar konser pertama kali di Dili adalah Koes Plus. Band yang amat terkenal dimasanya bahkan hingga ke Timor, kemudian bertandang ke ibu kota jajahan Portugis selama lebih dari 400 tahun. Pada bulan Nopember 1974 ketika panas-panas antar partai politik sedang terbakar, Koes Plus tiba. Berani sekaligus nekat, maklum dibelakang mereka ada Orde Baru-ABRI-Bais yang mem-back up-nya. 

Selain soal gelaran bermusik di tanah Timor Portugis yang sedang bergejolak dan bersinggungan dengan Indonesia, Koes Plus mendapat "tugas negara". Dalam misi rahasia yang konon diatur oleh OPSUS tersebut, Pemerintah RI menggunakan group musik Koes Plus yang terkenal sampai ke negara tersebut, untuk melihat seberapa besar keinginan masyarakat yang pro integrasi ke Indonesia.

Usaha memotret kondisi politis saat itu, terasa aromanya dari massa Timor yang saling meneriakan lantang. Dalam kerusuhan setelah konser Koes plus tergambarkan ada dua kubu kuat. 

Terjadi kerusuhan disulut oleh massa pendukung Fretillin mereka berteriak  "VIVA FRETILIN ! ", teriakan massa yang beringas disertai lemparan batu dan kaca pintu dan jendela pun pecah berantakan di gedung tempat pentas Koes Plus di Dili. Saat itu wilayahnya masih bernama Timor Portugis. Sementara massa lainnya membalas dengan teriakan "VIVA APODETI,VIVA INDONESIA!" dan VIVA PRESIDENTE SOEHARTO!"

Sepertinya misi intelejen Koes Plus dalam memotret kondisi saat itu di Timor Portugis, khususnya terhubung dengan eleman pro-integrasi adalah berhasil. Terjadinya penyambutan pihak Apodeti saat sampai dibandara Dili, dan saat pulang ke Jakarta yang disambut Ali Murtopo dan Adam Malik, cukup memastikan bahwa pejalanan Koes Plus yang nanti membuahkan lagu "da Silva" adalah untuk menjalankan "tugas negara". Anak dari personil Koes Plus menyebut sebagai bagian dari intel, tikus tanah.

Namun kisah sukses Koes Plus itu tidak diikuti dengan musisi lokal sebagai pada band pembukanya, mereka mengalami kisah yang tak terlupakan hingga kini. Band Pembuka dari tuan rumah kala itu bernama "Os 5 do Oriente". Band senior Timor portugis itu, sama-sama memiliki jadul lagu "Maria".

Band "Os 5 do Oriente" eksis sejak tahun 1965-1979. Mereka terdampak panas dan kelam-nya politik kala itu. Sejak sebuah invasi atau penyerbuan Pasukan Gabungan yang dilanjutkan dengan "pembersihan" musuh juga simpatisan-nya, menyasar seakan kesegala arah tanpa membedakan antara seniman, musisi khususnya dengan pelaku permainan politik. 

Pola ini mengakibatkan terculiknya para pesonel dari band yang pernah menjadi band pembuka di konser Koes Plus di Dili 1974. Peristiwa ini terjadi setelah pergolakan tahun 1979. Entah karena bisikan tertentu atau analisa data intelejen, 3 personel band jaman Timor Portugis itu kemudian diculik setelah menyelesaikan aksi panggungnya di Hotel Dili pada acara HUT Kopassus.  

Kontan tersisa 2 personil. Australia dijadikan tempat pelarian salah satu personil dan satunya lagi menetap di Dili. Beliau menikah dengan keluarga yang kemudian mampu menyelamatkan dari kisah pilu serupa tahun 1979 yang sulit terungkap itu. 

Tak patah arang dirundung kesedihan, gairah bermusik kembali segar. Melihat kondisi politik pasca Santa Cruz 1991 relatif "nyaman" dan tentunya setelah orientasi politik internasional dan Indonesia berubah mulai mementingkan HAM, pada tahun 1995 membuat pemunculan kembali "new Os 5 do Oriente". Band reborn ini mendapat penambahan 5 personil baru, dan keren-nya ialah ternyata mereka masih eksis hingga hari ini. 

Rasanya, kalau mereka kembali tampil satu panggung dengan Koes Plus atau anak-anaknya yang tetap ber-genre Koes Plus bernama Junior, akan menjadi sebuah monumen nostalgia klasik yang baik. Barangkali momentum yang terdekat ialah saat Hari Restorasi Kemerdekaan pada 20 Mei 2026?, piye? menarik, bukan?


Sumber

Sumber

Sumber

Sumber

Buku: Hari-hari Akhir Timor Portugis karya Tomodok. 




Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama