Nama foto diatas mulai dibicarakan di media massa jaman integrasi setelah Kasus Gariana, dimana sejumlah simpatisan/celulla Falintil ditembak mati oleh Tim Parkit Kodim Liquisa. Antoni Alves Hatoli namanya, kemudian lolos dalam penyergapan 1995 tersebut.
Berselang 3 tahun kemudian, tahun 1998 dibulan April, Hatoli meninggal dunia setelah baku tembak dengan 3 orang prajurit ABRI dikampung Fatubesi, Kabupatin Ermera. Mendapat informasi akurat, bersama SGI dan komandannya lalu melakukan penyerangan ditempat persembunyian musuh di Pukelete Mau Ubu Liquisa sekitar jam 4 pagi menjelang ayam berkokok. Seorang gerilyawan GPK tewas ditempat begitupula komandan SGI, tapi Hatoli mampu melarikan diri. Naas ketika menghindar ke arah sungai, beliau ditembak oleh Berpelu Alarico yang berasal dari Koramil 1637 Ermera. Tempat gugurnya ini, Urahou Mau Ubu Hatulia, tak jauh dari tempat perlindungannya sebelumnya yang sudah "digrebek" oleh tentara Indonesia.
Korban di pihak ABRI terdiri dari 2 tentara, salah satu bernama Diego Deposi. Kasus ini juga ditangani oleh Komnas HAM. Tim yang terdiri dari Ali Sa'id, Clementino Amaral dkk, terbang dengan helikopter dan mendaratkannya di lapangan sepak bola Liquisa. Kedatangan tim ini dijemput langsung oleh Bupati Liquisa kala itu, yakni Leonito Martins dan dihadiri juga para kepala instansi se-kabupaten.Liquisa. Segera rombongan langsung menuju ke TKP, Urahou Mau Ubu Hatulia, Gariana Liquisa.
Hatoli kelahiran, asli dari Kecamatan Liquisa. Saat jaman integrasi, Hatoli adalah seorang guru SD.
