NEGARA YANG SIBUK BERPOLITIK, TAPI LUPA MASA DEPAN


Oleh: Basmeri

Ada satu sikap yang tampaknya mulai menjadi kebiasaan dalam politik Timor Leste: keyakinan bahwa masa depan ekonomi akan selalu terselamatkan oleh Greater Sunrise. Seolah-olah ladang gas itu adalah jawaban otomatis bagi semua persoalan negara. Banyak orang berbicara tentangnya seperti seseorang yang merasa aman karena memiliki tabungan besar di bank, padahal tabungan itu belum bisa diambil sekarang. Keyakinan ini membuat suasana politik di Dili terasa santai, bahkan kadang terlalu santai. Ancaman ekonomi yang sebenarnya sudah berada di depan mata justru diperlakukan seolah masih sangat jauh.

Bayu-Undan yang selama ini menjadi napas ekonomi negara itu sudah berhenti berproduksi. Itu berarti sumber utama pemasukan negara yang selama dua dekade menopang anggaran pemerintahan sebenarnya sudah berakhir. Namun alih-alih membuka diskusi nasional yang serius tentang masa depan ekonomi, panggung politik justru masih dipenuhi oleh pidato-pidato besar, retorika sejarah, dan pertarungan simbolik tentang siapa yang paling berjasa bagi negara.

Dalam banyak perdebatan publik, jarang sekali terdengar seorang pemimpin yang berbicara dengan jujur tentang tantangan ekonomi di depan. Hampir tidak ada diskusi serius mengenai bagaimana negara kecil dengan sumber daya terbatas ini harus membangun industri, memperkuat pertanian, atau menciptakan ekonomi yang tidak lagi bergantung pada minyak dan gas. Sebaliknya, yang lebih sering terdengar adalah optimisme yang bertumpu pada satu kalimat sederhana: nanti ada Greater Sunrise.

Masalahnya, Greater Sunrise bukanlah sesuatu yang bisa menyelamatkan keadaan dalam waktu dekat. Proyek itu masih berada dalam proses panjang yang penuh ketidakpastian teknis, politik, dan investasi. Bahkan dalam perkiraan yang paling optimis sekalipun, hasilnya tidak akan datang dalam waktu cepat. Ada jarak waktu yang panjang antara berakhirnya Bayu-Undan dan kemungkinan produksi dari Greater Sunrise. Jeda inilah yang justru menjadi bagian paling berbahaya dalam perjalanan ekonomi Timor Leste.

Namun kesadaran mengenai jeda ini tampaknya belum benar-benar menjadi perhatian utama dalam diskusi politik nasional. Negara seolah berjalan seperti biasa. Gedung-gedung baru dibangun, proyek-proyek besar diumumkan, dan pidato-pidato penuh optimisme terus bergema. Politik dipenuhi dengan retorika bombastis tentang kedaulatan dan masa depan bangsa, sementara pembicaraan mengenai bagaimana ekonomi akan bertahan dalam beberapa tahun ke depan hampir tidak terdengar.

Ironisnya, di tengah situasi seperti ini, justru muncul rencana-rencana pembangunan yang lebih menonjolkan simbol kemegahan daripada kebutuhan nyata rakyat. Salah satunya adalah proyek pembangunan atau pengembangan bandar udara mewah yang digadang-gadang akan menjadi wajah modern Timor Leste di mata dunia. Namun banyak pengamat melihatnya dengan kekhawatiran: tanpa arus wisatawan yang stabil, tanpa ekonomi domestik yang kuat, dan tanpa konektivitas penerbangan yang cukup, bandara megah itu berisiko menjadi sekadar bangunan besar yang sepi aktivitas—sebuah “bandara hantu” yang berdiri megah tetapi tidak benar-benar hidup. Sejarah pembangunan di banyak negara kecil menunjukkan bahwa infrastruktur yang dibangun lebih karena gengsi politik daripada kebutuhan ekonomi sering kali berakhir sebagai monumen mahal dari perencanaan yang terlalu optimistis.

Di sinilah muncul kesan bahwa negara sedang hidup dalam semacam ilusi waktu—seolah-olah masa depan ekonomi masih bisa ditunda karena suatu hari nanti Greater Sunrise akan datang menyelamatkan semuanya. Padahal ekonomi tidak bekerja dengan logika harapan. Ekonomi bekerja dengan produksi, dengan kerja nyata, dengan sektor-sektor yang benar-benar menghasilkan nilai.

Tanpa pembicaraan yang jujur tentang tantangan itu, politik berisiko berubah menjadi panggung retorika yang indah tetapi kosong. Negara sibuk mengisi ruang publik dengan simbol-simbol kebanggaan, tetapi kurang memberi perhatian pada fondasi yang menentukan apakah kebanggaan itu dapat bertahan dalam jangka panjang.

Sejarah banyak negara menunjukkan satu pelajaran yang sederhana: sumber daya alam bisa memberi kekayaan cepat, tetapi hanya perencanaan ekonomi yang serius yang bisa memberi masa depan. Jika para pemimpin lebih sibuk dengan politik yang bombastis daripada mempersiapkan ekonomi yang nyata, maka suatu hari nanti negara akan dipaksa menghadapi kenyataan yang tidak bisa dijawab oleh pidato, tidak bisa ditenangkan oleh simbol, dan tidak bisa diselesaikan hanya dengan berharap pada satu ladang gas yang belum tentu datang tepat waktu.


Sumber

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama