As’wain dan Maubere dalam Pandangan Domingos Policarpo


Oleh: Basmeri

Domingos Policarpo, seorang tokoh integrasionis, menuliskan pandangannya mengenai istilah As’wain dan Maubere sebagai bagian dari refleksi tentang identitas dan kesadaran politik orang Timor. Menurutnya, penulisan yang tepat adalah As’wain, yang berasal dari dua kata lokal: As berarti tinggi dan Wain berarti sangat. Gabungan keduanya dimaknai sebagai sosok yang luhur, tinggi martabatnya, dan memiliki jiwa satria. Bagi Policarpo, istilah ini mencerminkan identitas yang bermartabat dan tidak tunduk pada konstruksi sosial yang merendahkan.

Dalam tulisannya, ia juga menyoroti istilah Maubere, yang dalam sejarah politik modern di Timor-Leste pernah dipopulerkan oleh José Ramos-Horta sebagai simbol rakyat kecil dalam perjuangan nasional. Namun Policarpo berpendapat bahwa secara makna, istilah tersebut tidak berbeda jauh dengan sebutan seperti maufehuk, beikten, dan atan, yang menurutnya memiliki konotasi sosial yang merendahkan.

Ia melihat bahwa penggunaan istilah tertentu dalam sejarah kolonial maupun pascakolonial dapat membentuk pola pikir kolektif. Ketika rakyat terus-menerus disebut dengan istilah yang melekat pada citra “kelas bawah”, ada risiko terbentuknya kesadaran diri yang merasa kecil atau terpinggirkan. Dalam perspektifnya, bahasa bukanlah netral; ia bisa menjadi alat pembentuk struktur sosial dan politik.

Karena itu, Policarpo menawarkan As’wain sebagai antitesis dari Maubere. Jika Maubere dipahami sebagai identitas yang dilekatkan pada rakyat kecil, maka As’wain adalah seruan untuk mengangkat martabat, menegaskan ketinggian nilai diri, dan membangun kesadaran sebagai bangsa yang bermartabat. Bagi dirinya, pergeseran istilah bukan sekadar soal semantik, melainkan bagian dari perjuangan narasi tentang siapa orang Timor dan bagaimana mereka melihat diri mereka sendiri dalam sejarah.

Dengan demikian, perdebatan tentang istilah ini bukan hanya soal kata, tetapi soal arah kesadaran bangsa. Apakah identitas dibangun atas narasi kerendahan, atau atas pengakuan akan keluhuran dan keberanian? Di situlah As’wain hadir sebagai simbol kebangkitan martabat

Sumber

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama