Sebuah tulisan "Basmeri Integrasionis" yang di copi dari kolom komentar. Silahkan dibaca...
Narasi bahwa pendukung integrasi “berkolaborasi dengan kekuatan pendudukan” mengasumsikan satu hal besar:
bahwa Indonesia sejak awal adalah penjajah eksternal dan rakyat Timor adalah satu blok homogen yang ditindas.
Fakta sejarah tidak sesederhana itu.
• Portugal meninggalkan Timor dalam kekosongan kekuasaan.
• Perang saudara meletus antara UDT dan FRETILIN.
• Empat partai politik secara kolektif meminta bantuan Indonesia.
• 7 September 1975, UDT lebih dahulu meminta intervensi.
Ini bukan kolonisasi klasik ala Eropa di Afrika.
Ini konflik internal dalam konteks dekolonisasi yang gagal.
Menyebut semua pendukung integrasi sebagai “kolaborator penjajah” adalah reduksi ideologis, bukan analisis sejarah.
Tentang Milisi dan Kekerasan 1999
Tidak ada yang membantah bahwa 1999 terjadi kekerasan.
Tetapi framing bahwa kekerasan itu satu arah dan satu pelaku adalah manipulatif.
Fakta:
• Kekerasan politik sudah terjadi sejak 1975.
• Milisi tidak muncul dalam ruang hampa; mereka lahir dari ketakutan nyata akan kemungkinan pembalasan pasca-referendum.
• Banyak pendukung integrasi juga menjadi korban, dibunuh, diintimidasi, dipaksa mengungsi.
Menghapus penderitaan satu sisi lalu menyebutnya “catatan sejarah final” bukan objektivitas. Itu seleksi moral.
Tentang 78,5% dan “Kekalahan”
Hasil 78,5% memang tercatat.
Tetapi itu tidak otomatis menjadikan prosesnya kebal dari kritik.
Beberapa pertanyaan rasional:
• Mengapa staf lokal UNAMET didominasi oleh unsur anti-integrasi?
• Mengapa kantor UN banyak ditempatkan di wilayah basis pro-kemerdekaan?
• Mengapa intimidasi terhadap pendukung otonomi jarang diangkat secara setara?
Mengajukan pertanyaan tidak sama dengan menolak demokrasi.
Demokrasi tanpa ruang kritik justru berubah menjadi dogma.
Tentang “Integrasi Dipertahankan dengan Kekerasan”
Ini framing paling bermasalah.
Integrasi bukan hanya dipertahankan dengan militer.
Ia juga didukung oleh:
• struktur administratif lokal,
• partisipasi politik,
• tokoh-tokoh sipil Timor sendiri,
• pembangunan infrastruktur dan institusi negara.
Mengabaikan dukungan lokal lalu menyebut semuanya “paksaan” adalah penghapusan agensi orang Timor yang memilih berbeda.
Apakah mereka boneka?
Apakah mereka tidak punya kehendak?
Jika ya, maka itu justru merendahkan rakyat Timor sendiri.
Tentang “Asimetri Moral”
Kalimat ini paling problematik:
“Kemerdekaan diupayakan di bawah penindasan; integrasi dipertahankan melalui paksaan.”
Ini bukan analisis. Ini slogan.
Perang saudara 1975 membuktikan bahwa kekerasan bukan monopoli satu pihak.
Pembantaian terhadap anggota APODETI dan lawan politik FRETILIN adalah fakta sejarah yang sering dihapus dalam narasi kemerdekaan.
Jika pembunuhan tahanan, sipil tak bersenjata, dan lawan politik diabaikan karena “itu bagian perjuangan”, maka moralitasnya runtuh.
Tidak ada kemerdekaan yang kebal dari evaluasi moral.
Tentang “Pluralisme Tidak Memerlukan Amnesia Moral”
Setuju.
Tetapi pluralisme juga tidak berarti:
• menghapus legitimasi pilihan integrasi,
• menstigma seluruh kelompok sebagai kolaborator,
• menolak hak historis rakyat pro-integrasi untuk dihormati.
Rekonsiliasi tidak bisa dimulai dengan kalimat:
“Kalian salah secara moral sejak awal.”
Itu bukan rekonsiliasi.
Itu vonis permanen.
Inti Masalah Sebenarnya
Masalahnya bukan sejarah.
Masalahnya adalah siapa yang memegang otoritas moral untuk mendefinisikan sejarah.
Integrasi diakui sebagai salah satu opsi sah dalam hukum internasional:
• Federasi
• Independen
• Integrasi
Jika dunia politik akhirnya mengakui kemerdekaan, itu adalah hasil dinamika geopolitik.
Tetapi itu tidak otomatis menjadikan pilihan integrasi sebagai pengkhianatan.
Untuk "David Savage" Sang Pengamat Asing
Jika seseorang dari luar ingin mengomentari, silakan.
Tetapi jangan datang membawa narasi tunggal lalu menyebutnya final.
Timor bukan laboratorium moral bagi pengamat asing.
Ia adalah tanah dengan sejarah kompleks, konflik internal, dan pilihan politik yang tidak hitam-putih.
Kesimpulan Tegas
Integrasi bukan kejahatan.
Kemerdekaan bukan dosa.
Kekerasan adalah tragedi di kedua sisi.
Tetapi menyederhanakan sejarah menjadi:
“Integrasi = kolaborator teror
Kemerdekaan = moral superior”
Itu bukan sejarah.
Itu propaganda dengan tata bahasa akademik.
Dan propaganda tetap propaganda,
meskipun ditulis dengan bahasa yang fasih.
