Bharatu Markus Temaluru adalah seorang purnawirawan perwira Kepolisian Republik Indonesia (Polri) asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dikenal memiliki riwayat pengabdian panjang sejak era Operasi Seroja.
Pada masa mudanya, ia bertugas sebagai anggota Polri dengan pangkat Bhayangkara Satu (Bharatu) dan terlibat langsung dalam operasi militer Operasi Seroja di Timor Timur pada tahun 1976. Sepanjang karier aktifnya, ia tercatat pernah berdampak besar saat bertugas di Kepolisian Wilayah (Polwil) NTT di bawah kepemimpinan mantan Kapolwil Kolonel (Pol) Johannis Paulus.
Kesatuan utama tempat beliau menghabiskan sebagian besar masa dinas aktifnya adalah di bawah Polwil Nusa Tenggara Timur. Di kesatuan ini, beliau bertugas sebagai anak buah langsung dari mantan Kapolwil NTT yang legendaris, Letkol/Kolonel Polisi Johannis Paulus. Pada tahun 1976, saat masih menyandang pangkat Tamtama (Bharatu), beliau tergabung dalam korps penugasan taktis Polri yang dikirim langsung ke medan pertempuran Timor Timur (sekarang Timor Leste).
Berawal dari Surat Perintah Dantares NTT kepada Bharatu (Pol) Markus Temaluru untuk berangkat ke Timor Portugal, dia bersama temannya Koptu (pol) Son Plaituka. Mereka berdua berangkat dari Kupang ke Dili menggunakan pesawat Dahkota. Ketika akan mendarat di bandara Comoro- Dili mereka mendapat hadangan berupa tembakan artileri dari Fretilin dari bukit Dili menyebabkan pesawat berputar kembali meminta bà ntuan kpd kapal perang Indonesia yg tengah berkonsentrasi di Marotaim Alor.
Kemudian dua kapal perang menembaki bukit Dili untuk meredam tembakan pasukan Fretilin dari sana, sehingga akhirnya pesawat Dahkota yang ditumpangi oleh Markus dan Son serta beberapa anggota Brimob (ex Menpor) dan RPKAD dapat mendarat dengan selamat di bandara Comoro. Sebagai catatan bahwa anggota ABRI dari 4 angkatan yang diterjunkan ke Operasi Seroja, berpakaian yang “tidak ada badge kesatuan dan pangkat” karena itu mereka disebut dengan Sukarelawan, jadi sulit kita mengenal mereka berasal dari kesatuan mana, nanti setelah kita bertanya barulah kita tau mereka berasal dari kesatuan mana, hal ini berlaku khususnya bagi mereka yang terjun ke Timor Portugal sebelum terjadi Timor Portugal dinyatakan sebagai Timor Timur yang merupakan Propinsi yang ke-27 Republik Indonesia pada bulan Juli 1976.
Di Dilli, Markus Temaluru dan Son Plaituka ditempatkan Markas Batalyon Teratai Briimob (terdiri dari banyak orang-orang ex. Menpor) Dilli, dimana komandannya pada saat itu adalah Mayor (pol) Pieter Sambo, perwira lainnya yakni Letda (pol) Tarigan. Tugas pertama dari Markus pada awalnya adalah sebagai tenaga administrasi di Mako Brimob Dilli . Selain itu, Markus juga diperbantukan sbg Penterjemah bahasa Cina pada kesatuan tersebut, dia sempat ditugaskan bersama partisan Apodeti untuk mengidentifikasi kaum Tionghoa disana, mana yang pro Kemerdekaan dan mana yang mendukung bergabung dengan Republik Indonesia.
Pada bulan Mei 1976, Markus minta pindah ke Polres Baucau (sektor timur), dia bertugas disana selama 7 (tujuh) bulan dan dia juga ikut diperbantukan di Satuan Brimob Baucau dalam Ops. Perebutan dan Pembersihan daerah sektor Timur dari penguasaan tentara Fretilin, namun dalam perhitungan cepat operasi ABRI (Brimob didalamnya) mampu merebut semua sub distrik di sektor Timur dengan pertumpahan darah yang tidak sedikit karena ABRI saat itu harus berhadapan dengan Falintil yang di back-up oleh pasukan ex Tropaz-Portugis yang berpengalaman perang di Afrika.
Akhirnya pada bulan Desember 1976 Markus dan Son mendapat rotasi kembali ke Kupang setelah bertugas selama setahun di Timor-Timur. Markus mengakhiri masa bhaktinya di Polri pada tahun 2008 dengan pangkat terakhir dipundaknya adalah yakni Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP Purn.) atau Komisaris Polisi (Kompol Purn.). Setelah memasuki masa pensiun, ia menetap di Kupang, NTT. Ia aktif dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan dan komunitas lokal, salah satunya adalah sebagai anggota dan penasihat dalam komunitas olahraga jalan cepat/lintas alam Tracking H5 Kupang.