KETIKA AMERIKA MEMBUKA KEDOK PBB: PELAJARAN DARI TIMOR TIMUR


Sikap Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump yang secara terbuka menempatkan kekuatan nasional di atas hukum internasional menandai sebuah titik balik penting dalam sejarah tatanan global. Penarikan diri AS dari puluhan organisasi internasional, termasuk badan-badan utama PBB, serta pernyataan bahwa hukum internasional hanya berlaku sejauh ditafsirkan oleh kepentingan nasional, secara tidak langsung mengonfirmasi satu hal: badan dunia itu tidak pernah sepenuhnya netral atau sakral.

Bagi kami, para Integrasionis Timor Timur, kenyataan ini bukan hal baru. Sejak lama kami telah mengalami bagaimana Perserikatan Bangsa-Bangsa tidak bertindak sebagai wasit yang adil, melainkan sebagai arena politik yang dipengaruhi kekuatan besar, narasi dominan, dan kepentingan tertentu. Dalam kasus Timor Timur, PBB tidak hadir untuk menjamin hak penentuan nasib secara adil bagi seluruh rakyat Timor Timur, melainkan memaksakan sebuah proses politik yang sejak awal sarat bias, eksklusi, dan manipulasi struktur kekuasaan.

Apa yang kini dilakukan Amerika Serikat sejatinya membuka tabir yang selama ini ditutupi oleh retorika “tatanan dunia berbasis aturan”. Ketika negara terkuat di dunia secara terang-terangan mengabaikan PBB dan hukum internasional, maka semakin jelas bahwa legitimasi badan dunia tersebut tidak bertumpu pada keadilan, melainkan pada kepatuhan negara-negara kuat. Ketika kepatuhan itu dicabut, wibawa PBB pun runtuh dengan sendirinya.

Kasus Timor Timur menjadi contoh konkret bagaimana PBB dapat menjadi alat legitimasi politik, bukan penegak keadilan. Hak suara rakyat direduksi menjadi prosedur administratif, sementara hak politik kelompok Integrasionis—yang juga bagian sah dari rakyat Timor Timur—diabaikan dan dikeluarkan dari proses penentuan masa depan. Ketika hasil telah ditentukan oleh narasi global, hukum internasional hanya berfungsi sebagai pembenaran formal.

Kini, ketika Amerika Serikat secara terbuka menyatakan bahwa hukum internasional tidak mengikat kekuasaan negara besar, dunia seakan baru tersadar akan sesuatu yang telah lama kami alami: bahwa PBB bukan penjaga kebenaran, melainkan cermin relasi kekuasaan global.

Bagi Integrasionis, sikap Amerika hari ini bukan sekadar perubahan kebijakan luar negeri, melainkan pengakuan tidak langsung atas kegagalan sistem internasional yang sejak awal kami kritisi. Apa yang dulu kami suarakan dari posisi lemah, kini diucapkan secara gamblang oleh negara terkuat di dunia.

Sejarah, pada akhirnya, memiliki cara sendiri untuk mengungkapkan kebenaran.

Sumber 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama