FRETILIN: Romantisme Revolusi yang Menutupi Kekejaman dan Kegagalan


Tulisan Matheos Viktor Messakh berjudul "Elite FRETILIN 1970-an: Antara Pendidikan Jesuit, Turunan Deportados, African Connection, dan Semangat ‘the Sixties’" yang dimuat di satutimor.wordpress.com pada 17 Mei 2014, adalah contoh nyata bagaimana narasi sejarah bisa dibelokkan untuk menciptakan mitos heroik yang jauh dari realitas. Tulisan ini justru mengaburkan fakta, mengabaikan kekejaman, dan menggiring opini pembaca untuk melihat FRETILIN sebagai kelompok pejuang kemerdekaan yang mulia. Padahal, di balik narasi yang dibangun, terdapat kekerasan, ketidakmampuan, dan kegagalan yang justru menjadi catatan kelam sejarah Timor Timur.

Romantisme Revolusi yang Menyesatkan

Tulisan ini dimulai dengan glorifikasi romantis terhadap sekelompok mahasiswa yang baru saja kembali dari Portugal, terbuai oleh euforia Revolusi Bunga, dan tiba-tiba merasa terpanggil untuk menjadi "pembangun kesadaran nasional" di Timor Timur. Narasi yang dibangun terkesan heroik, penuh semangat revolusioner, namun sayangnya, lebih banyak dibangun di atas ilusi daripada fakta sejarah yang konkret. FRETILIN diangkat sebagai kelompok intelektual yang tercerahkan, padahal yang mereka bawa adalah ideologi Marxisme dan metode Paulo Freire—dua produk impor yang sama sekali tidak bersumber dari akar budaya lokal Timor. Ironis, bukan? Mereka yang mengklaim ingin menghidupkan kembali identitas budaya Timor justru mengimpor gagasan-gagasan asing yang bahkan bertentangan dengan nilai-nilai masyarakat setempat.

Namun, kesaksian Arsenio Horta, adik kandung José Manuel Ramos Horta, membongkar mitos bahwa FRETILIN adalah kelompok intelektual yang cerdas dan siap memimpin. Menurutnya para simpatisan FRETILIN sebagai anak-anak muda, kebanyakan pengangguran, dengan ide-ide ekstrem yang menuntut pengusiran orang Portugis dan kemerdekaan segera. Berbeda dengan simpatisan UDT yang menginginkan hubungan abadi dengan Portugal, atau APODETI yang lebih memilih integrasi dengan Indonesia, FRETILIN justru memilih jalan radikal yang penuh janji-janji kosong.

Arsenio, yang mengenal baik para pemimpin FRETILIN—kebanyakan adalah teman sekolahnya—menyebut bahwa mayoritas dari mereka adalah mantan mahasiswa yang drop-out dari Portugal dan kehilangan beasiswa. Mereka berbicara tentang doktrin Mao seolah-olah itu adalah solusi ajaib, sambil menggalakkan rakyat untuk melawan orang Portugis. Namun, janji-janji mereka, seperti pelayanan kesehatan gratis dan penghapusan pajak, hanyalah mimpi di siang bolong. Xavier do Amaral, presiden FRETILIN, bahkan pernah mengatakan kepada Arsenio bahwa setelah merdeka, rakyat tidak perlu lagi membayar pajak dan semua layanan kesehatan akan gratis—padahal Timor Timur saat itu bahkan tidak memiliki dokter yang memadai.

Arsenio dengan tegas menyatakan bahwa FRETILIN tidak memiliki kapasitas untuk memenuhi janji-janji mereka. "Mereka hanya ingin menciptakan instabilitas dan memulai kekacauan," ujarnya. Menurutnya, para pemimpin FRETILIN tidak siap memimpin pemerintahan apa pun, terlepas dari garis politik mereka. Kesaksian ini membongkar mitos bahwa FRETILIN adalah kelompok intelektual yang cerdas dan siap memimpin. Sebaliknya, mereka adalah sekumpulan pemuda radikal yang lebih tertarik pada retorika revolusioner daripada solusi nyata bagi rakyat Timor Timur.

Lagu "Foho Ramelau" disebut sebagai alat kampanye anti-buta huruf, tetapi tidak disebutkan bahwa lagu ini juga menjadi alat indoktrinasi ideologis. FRETILIN tidak sekadar mengajarkan literasi, tetapi menanamkan kebencian terhadap kelompok yang berbeda pandangan, terutama mereka yang mendukung integrasi dengan Indonesia. Ini bukan pendidikan, melainkan propaganda yang menutupi kekerasan dan represi.

Kekerasan dan Kezaliman yang Dihilangkan

Salah satu kelemahan terbesar tulisan ini adalah pengabaian total terhadap kekerasan dan kezaliman yang dilakukan oleh FRETILIN. Messakh dengan sengaja menghilangkan fakta bahwa FRETILIN bukan hanya "pejuang kemerdekaan", tetapi juga kelompok yang bertanggung jawab atas pembantaian brutal di Timor Timur. Berdasarkan kesaksian Arsenio Horta, adik kandung Ramos Horta, FRETILIN melakukan eksekusi massal terhadap lawan politik mereka, termasuk anggota UDT, APODETI, dan bahkan masyarakat biasa yang tidak setuju dengan mereka.

Tulisan ini juga tidak menyebutkan bagaimana FRETILIN membangun sistem pemerintahan represif di daerah yang mereka kuasai, lengkap dengan kamp kerja paksa dan eksekusi bagi mereka yang dianggap tidak loyal. Ironisnya, Messakh justru meromantisasi mereka sebagai pahlawan rakyat, tanpa sedikit pun menyebutkan jejak darah yang mereka tinggalkan.

Kontradiksi dalam Narasi Pro-FRETILIN

Narasi pro-FRETILIN sering kali menutupi fakta kekejaman ini dengan menggambarkan mereka sebagai korban penindasan Indonesia. Namun, fakta sejarah menunjukkan bahwa sebelum Indonesia masuk ke Timor Timur, FRETILIN sudah lebih dulu menebarkan ketakutan dan melakukan pembantaian terhadap rakyatnya sendiri. Bahkan presiden FRETILIN sendiri, Xavier do Amaral, tidak memiliki kendali atas pasukannya, yang menunjukkan bahwa organisasi ini sejak awal sudah memiliki kelemahan struktural yang besar.

Messakh juga mengabaikan fakta bahwa FRETILIN tidak mampu mempertahankan kontrolnya ketika Indonesia masuk ke Timor Timur atas permintaan kelompok pro-integrasi. Mereka melarikan diri ke luar negeri, sementara rakyat kecil yang mereka tinggalkan harus menanggung akibat dari petualangan ideologi yang gagal ini.

Kegagalan Revolusi dan Kesalahan Strategis

Tulisan ini menggambarkan FRETILIN sebagai kelompok yang penuh semangat dan visi, tetapi tidak menyebutkan kegagalan mereka dalam pemerintahan. Janji-janji seperti pendidikan dan layanan kesehatan gratis sama sekali tidak memiliki dasar yang realistis. Xavier do Amaral bahkan mengklaim bahwa Mao Tse-Tung akan menyediakan semua kebutuhan Timor Timur setelah kemerdekaan, sebuah klaim yang absurd dan menunjukkan ketidaksiapan mereka untuk memimpin.

Ketika FRETILIN memproklamasikan kemerdekaan Timor Timur pada 28 November 1975, mereka tidak hanya mengundang respons Indonesia, tetapi juga menjerumuskan rakyat Timor Timur ke dalam konflik berkepanjangan. Klaim bahwa Timor Timur akan menjadi "Kuba di Asia Tenggara" adalah bukti betapa para petinggi FRETILIN lebih sibuk bermain dengan fantasi geopolitik daripada memahami kenyataan pahit di lapangan. Seperti biasa, narasi standar kaum kiri adalah menyalahkan "imperialisme Amerika" dan "sekutu perang dingin" tanpa sedikit pun introspeksi terhadap peran FRETILIN dalam menciptakan kekacauan.

Legitimasi Palsu: Pendidikan Jesuit dan Reformasi Gereja

Menarik juga bagaimana tulisan ini berusaha membangun legitimasi FRETILIN dengan menyebut "pendidikan Jesuit" dan "reformasi Gereja Katolik." Seolah-olah, latar belakang pendidikan bisa menghapus fakta bahwa kelompok ini menggunakan kekerasan brutal untuk mencapai tujuan mereka. Di satu sisi, mereka membanggakan "kesadaran politik" yang terbentuk di lingkungan gereja, tetapi di sisi lain, mereka tidak segan-segan menekan dan membantai mereka yang berbeda pandangan, termasuk sesama orang Timor.

Penulis juga tampak berusaha mengangkat "keunggulan intelektual" para pemimpin FRETILIN dengan menyebut polemik di koran gereja Seara sebagai cikal bakal nasionalisme Timor. Namun, jika mereka benar-benar memahami makna nasionalisme, mengapa mereka justru memaksakan ideologi Marxisme dan menyingkirkan rival politik mereka dengan cara keji? Fakta bahwa beberapa di antara mereka memang bersekolah di seminari Jesuit bukan berarti mereka otomatis menjadi pemimpin yang benar atau bermoral. Yang lebih ironis, orang-orang yang begitu bangga dengan pengaruh Gereja justru menuduh Gereja sebagai kaki tangan kolonial ketika kepentingannya tidak lagi sejalan.

Asal-Usul Tokoh: Gelar Kebangsawanan Revolusioner?

Bagian paling menghibur adalah bagaimana asal-usul beberapa tokoh ini diceritakan dengan penuh kebanggaan, seolah-olah keturunan dari pemberontak, anarkis, dan orang-orang buangan adalah semacam gelar kebangsawanan revolusioner. Oh, Ramos Horta? Cucu dari seorang anarkis yang suka meledakkan bom di Lisbon? Fantastis! Pemimpin yang ideal untuk sebuah bangsa yang katanya ingin bebas dari kekerasan.

Jangan lupakan deskripsi "tentara" FRETILIN yang sangat unik. Para jurnalis yang datang pun terheran-heran melihat pasukan revolusi ini—bukan karena ketangguhan mereka, melainkan karena mereka tampak seperti kumpulan hippie dengan rambut gondrong dan penampilan lusuh. Tapi tenang saja, mereka bukan sembarang hippie; mereka adalah tentara revolusi yang katanya siap melawan kekuatan besar seperti Indonesia.

Semangat the Sixties: Pengaruh Budaya Barat yang Menyesatkan

Dan tentu saja, tulisan ini tidak akan lengkap tanpa glorifikasi terhadap semangat the Sixties yang katanya mengilhami gerakan FRETILIN. Betapa luar biasa bahwa revolusi Timor Timur dipengaruhi oleh tren global yang berakar dari pemberontakan budaya Barat! Seolah-olah, tanpa ‘romantisme revolusi mahasiswa’ dari dekade 60-an, perjuangan di Timor Timur tidak akan pernah terjadi.

Narasi Sepihak yang Mengkhianati Sejarah

Tulisan Matheus Messakh yang membanggakan FRETILIN menunjukkan kecenderungan bias yang kuat dengan hanya mengandalkan sumber-sumber dari kelompok anti-Indonesia dan anti-Integrasi. Tidak ada upaya untuk memasukkan perspektif dari mereka yang mengalami langsung kekejaman FRETILIN, seperti yang disampaikan dalam kesaksian Arsenio Horta, adik kandung José Ramos-Horta. Messakh gagal memberikan gambaran yang objektif tentang sejarah FRETILIN karena hanya mengandalkan referensi dari kelompok anti-Indonesia dan anti-Integrasi. Dengan mengabaikan kesaksian korban dan sumber dari pihak pro-Integrasi, tulisan ini menjadi lebih bersifat propaganda daripada analisis sejarah yang berimbang. Jika ingin menulis sejarah yang adil, seharusnya semua perspektif—terutama yang berasal dari korban kekejaman FRETILIN—juga mendapat tempat dalam kajian sejarah."

Ini adalah contoh nyata bagaimana narasi sejarah bisa dibelokkan untuk melayani agenda tertentu. Messakh mengabaikan kekejaman FRETILIN, mengaburkan fakta, dan menggunakan diksi yang provokatif untuk menggiring opini pembaca. Ini bukan tulisan yang objektif, melainkan narasi sepihak yang mengkhianati sejarah.

Sebagai pembaca, kita harus kritis terhadap narasi seperti ini. FRETILIN bukanlah pahlawan tanpa cela, melainkan kelompok yang membawa penderitaan bagi rakyat Timor Timur. Jika kita ingin memahami sejarah secara utuh, kita harus mendengarkan semua suara, bukan hanya narasi yang menguntungkan satu pihak.

Pelajaran dari Kegagalan FRETILIN

Kasus FRETILIN harus menjadi pelajaran bagi kita semua. Revolusi yang dibangun di atas kekerasan dan ilusi ideologis hanya akan berakhir dengan kegagalan dan penderitaan. Tulisan seperti "Elite FRETILIN 1970-an" hanya mengingatkan kita betapa pentingnya untuk menjaga integritas sejarah dan menghargai mereka yang menjadi korban dari kekerasan dan represi.

Nasionalisme bukan sekadar slogan, tetapi pengorbanan nyata. Dan pengorbanan rakyat Timor Timur yang menjadi korban kekerasan FRETILIN tidak boleh dilupakan. Mereka adalah bagian dari sejarah kita, dan suara mereka harus didengar.


Sumber

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama