BANYAK SAKSI PERANG MENCATATNYA KEPUTUSAN MAYOR SBY DI TIMOR TIMUR YANG MASIH DIPERDEBATKAN HINGGA KINI

Di tengah kerasnya konflik bersenjata di Timor Timur pada dekade 1980-an, ada satu keputusan lapangan yang hingga kini masih sering dibicarakan oleh kalangan militer dan pengamat sejarah. Keputusan itu diambil oleh seorang perwira menengah TNI AD bernama Susilo Bambang Yudhoyono.

Peristiwa ini terjadi pada tahun 1986, ketika Susilo Bambang Yudhoyono masih berpangkat Mayor dan bertugas dalam operasi militer di wilayah Timor Timur, yang saat itu masih menjadi provinsi ke-27 Republik Indonesia. Konflik bersenjata antara TNI dan kelompok bersenjata Fretilin masih berlangsung intens, dengan kontak tembak yang kerap terjadi di wilayah pegunungan.

Dalam salah satu operasi tempur di kawasan Bukit Turiskai, pasukan TNI terlibat kontak senjata sengit dengan pasukan Fretilin. Pertempuran berlangsung brutal dan menegangkan. Setelah baku tembak berakhir, pasukan TNI berhasil menguasai medan dan memukul mundur lawan.

Di lokasi pertempuran, prajurit TNI menemukan seorang anggota Fretilin dalam kondisi kritis. Dalam situasi pasca-tempur yang masih panas, sejumlah prajurit bermaksud mengeksekusi kombatan tersebut. Praktik semacam ini kerap terjadi dalam konflik tidak konvensional, terutama ketika emosi dan adrenalin pasukan belum mereda.

Namun Mayor Susilo Bambang Yudhoyono mengambil keputusan yang berbeda. Ia melarang tindakan tersebut dan memerintahkan anak buahnya untuk memberikan pertolongan medis kepada prajurit Fretilin yang terluka. Setelah itu, kombatan tersebut dievakuasi dan diperlakukan sebagai tawanan perang.

Kepada pasukannya, Mayor SBY menegaskan bahwa TNI tetap terikat pada prinsip-prinsip hukum perang internasional. Tawanan perang, dalam kondisi apa pun, wajib dijamin keselamatannya dan diperlakukan secara manusiawi. Perintah itu dikeluarkan bukan di ruang kelas atau forum akademik, melainkan di medan perang, sesaat setelah baku tembak berakhir.

Keputusan ini menuai beragam reaksi di internal pasukan. Bagi sebagian prajurit, langkah tersebut dianggap tidak lazim di tengah konflik berdarah. Namun bagi yang lain, perintah itu menunjukkan disiplin komando dan upaya menjaga standar profesionalisme militer, bahkan dalam kondisi ekstrem.

Peristiwa tersebut kemudian hari kerap dirujuk oleh pengamat militer sebagai contoh pendekatan kepemimpinan lapangan Susilo Bambang Yudhoyono, yang kelak meniti karier hingga menjadi Jenderal TNI dan Presiden Republik Indonesia ke-6.

Hingga kini, kisah itu tetap menjadi bagian dari narasi panjang konflik Timor Timur—sebuah konflik yang tidak hanya meninggalkan catatan operasi militer, tetapi juga keputusan-keputusan moral yang diambil di bawah tekanan senjata.



Catatan Timtim Files: kasus seperti SBY banyak, sayangnya mereka kemudian tidak jadi pejabat dan tidak terekspos.

#SejarahMiliter

#TimorTimur

#SBY

#TNIAD

S03mb312

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama