MASA LALU TIDAK BISA MENGHIDUPI SEBUAH NEGARA


Oleh: Basmeri

Ketika Singapore berpisah dari Malaysia pada tahun 1965, banyak pengamat memprediksi negara kecil itu tidak akan bertahan lama. Wilayahnya sempit, tidak memiliki sumber daya alam, bahkan air minum harus diimpor dari Malaysia. Singapura tampak seperti negara tanpa masa depan. Namun sejarah membuktikan sebaliknya. Dalam waktu kurang dari dua dekade, Singapura menjelma menjadi pusat perdagangan dan keuangan penting di Asia.

Keajaiban itu bukan lahir dari minyak, emas, atau gas. Ia lahir dari kepemimpinan. Di bawah tokoh seperti Lee Kuan Yew, negara kecil itu dipimpin dengan disiplin, visi, dan keberanian mengambil keputusan yang keras. Para pemimpinnya melihat diri mereka bukan sebagai penjaga romantisme masa lalu, tetapi sebagai arsitek masa depan. Mereka merancang negara dengan kesadaran bahwa satu-satunya kekayaan yang mereka miliki adalah kemampuan berpikir, bekerja, dan mengelola pemerintahan secara efektif.

Bandingkan dengan Timor Leste. Di sana, legitimasi politik lahir dari sejarah perjuangan bersenjata. Para pemimpin nasionalnya muncul dari generasi gerilya yang bertahun-tahun hidup di hutan, melawan kekuatan militer yang lebih besar. Tokoh seperti Xanana Gusmão menjadi simbol heroisme nasional.

Namun sebuah negara tidak bisa hidup dari heroisme semata. Simbol perjuangan tidak otomatis berubah menjadi kemampuan mengelola ekonomi modern. Kepemimpinan gerilya tidak selalu identik dengan kepemimpinan pembangunan.

Masalahnya bukan pada penghormatan terhadap sejarah. Tetapi ketika politik terlalu lama hidup dari cerita masa lalu, masa depan justru menjadi kabur. Banyak literatur politik Timor Leste dipenuhi kisah tentang kehidupan gerilya, penderitaan selama konflik, dan solidaritas perjuangan di hutan. Narasi itu tetapi ia tidak otomatis menjawab pertanyaan paling mendasar: bagaimana menciptakan industri, bagaimana membangun ekonomi yang produktif, dan bagaimana memberi pekerjaan bagi generasi muda.

Hari ini ekonomi Timor Leste masih sangat bergantung pada minyak. Ketika produksi dari Bayu-Undan menurun, harapan besar pun digantungkan pada proyek gas Greater Sunrise. Namun proyek itu sendiri masih terjebak dalam tarik-ulur kepentingan internasional dan negosiasi panjang dengan Australia. Perdebatan mengenai apakah gas akan diproses di Darwin atau dialirkan ke pantai selatan Timor Leste telah berlangsung bertahun-tahun tanpa kepastian.

Ketika sebuah negara menggantungkan masa depannya pada satu proyek besar yang belum tentu terwujud, itu menunjukkan rapuhnya fondasi ekonomi yang dimiliki. Ketika satu proyek tertunda, seluruh arah pembangunan ikut terombang-ambing.

Sebaliknya, Singapura sejak awal memahami bahwa masa depan tidak boleh ditaruh pada satu kartu. Mereka membangun pelabuhan internasional, industri manufaktur, jasa keuangan, dan teknologi modern. Diversifikasi menjadi strategi bertahan hidup. Negara itu tidak menunggu nasib datang dari alam, tetapi menciptakan nasibnya sendiri.

Di sinilah perbedaan mendasar itu terlihat. Ada negara yang membangun masa depan dengan visi dan disiplin. Ada pula negara yang terlalu lama hidup dalam romantisme masa lalu.

Pelajaran sejarah sebenarnya sederhana tetapi sering diabaikan. Kepahlawanan masa lalu tidak bisa menjadi pengganti strategi pembangunan. Sebuah bangsa pada akhirnya tidak diukur dari seberapa heroik masa lalunya, tetapi dari seberapa serius para pemimpinnya membangun masa depan.

Sebab pada akhirnya, masa lalu hanya bisa dikenang. Tetapi masa depan harus dirancang.

Sumber

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama